Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Jalur Penting di 1980-an, Jalan Kedungwungu-Lebaksiu Tegal Akan Dihidupkan Lagi

DIBABAT - Semak-semak yang menutupi jalur jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu dibabat warga
untuk dihidupkan lagi
Sabtu 19 Juli 2025. (yeri noveli/radar tegal group)

Slawi — Warga Desa Kedungwungu Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal, bekerja bakti menghidupkan kembali jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu.


Mereka bahu-membahu membuka kembali jalur jalan tua yang lama tidak digunakan, sebagai akses penghubung. Sehingga jalurnya sempat tertutup semak-semak.


Padahal di tahun 1980-an, Jalan Kedungwungu-Lebaksiu merupakan jalur utama penghubung dari Desa Kedungwungu ke pasar di Slawi. 


Apalagi pada era tersebut, Pasar Cerih di Jatinegara belum ada. Aktivitas warga Sitail, Penyalahan, Cerih, Mokaha, hingga Gambuhan, bertumpu pada jalan ini sebagai akses ke pusat ekonomi.


Banyak warung berjejer di sepanjang jalan, menjadi saksi geliat ekonomi lokal. Namun seiring pembangunan infrastruktur baru, masyarakat mulai beralih ke jalur memutar yang melewati Karangjambu, Bojong, hingga Lebaksiu. 


Jalur baru memang layak dilalui kendaraan besar, tetapi jauhnya mencapai 30 kilometer, sangat membebani masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani dan pedagang kecil.


Jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu Tegal sepanjang 5,7 kilometer dengan lebar sekitar 8 meter yang melintasi kawasan perbukitan dan hutan pinus milik Perhutani itu kini kembali menggeliat.


Tak ada alat berat. Tak ada upah harian. Hanya tekad gotong royong yang menyatukan semangat warga untuk menghubungkan Desa Kedungwungu menuju Lebaksiu, sebuah jalur penting di masa lalu yang pernah menjadi nadi ekonomi warga sebelum akhirnya terlupakan.


“Kalau lewat jalan ini cuma 5,7 kilometer, bisa hemat waktu dan ongkos. Tapi sekarang sudah tertutup rumput, tinggal jalan setapak,” kata Mukarom, 50 tahun, tokoh masyarakat Kedungwungu yang juga ikut kerja bakti membuka jalan tersebut, Sabtu 19 Juli 2025.


Pembangunan kembali jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu Tegal ini dinilai akan membuka akses baru bagi pemerataan ekonomi di wilayah Tegal bagian selatan, khususnya daerah pegunungan yang selama ini tertinggal infrastruktur.


“Ini bukan sekadar jalan. Ini urat nadi yang menyambung harapan warga desa terhadap kemajuan. Kami ingin pemerintah benar-benar mengawal ini sampai selesai,” ujar Mukarom.


Kini, di antara pepohonan pinus yang menjulang, harapan baru perlahan tumbuh. Jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu Tegal itu mungkin telah mati, tapi semangat masyarakat untuk menghidupkannya kembali justru menguat.


Kepala Desa Kedungwungu Abdul Mukhit, mengatakan bahwa inisiatif membuka jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu Tegal ini murni berasal dari masyarakat.

"Kami ingin jalan ini kembali hidup. Ini jalur sejarah dan sangat dibutuhkan warga lintas desa,” ucapnya.


Ratusan warga Desa Kedungwungu tampak bergotongroyong membuka jalur di kawasan hutan milik Perhutani. 


Tanpa bayaran. Tanpa jaminan pasti. Hanya didorong oleh kebutuhan nyata untuk akses yang lebih manusiawi.


“Ini memang tanah Perhutani. Kabarnya, Bupati Tegal juga sudah menandatangani rekomendasi perizinannya,” ujanya.


Meski gerakan warga sudah dimulai, pembangunan fisik secara penuh masih bergantung pada rencana anggaran pemerintah daerah. 


Jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu Tegal ini telah diajukan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan diusulkan untuk masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tegal tahun 2026.


"Kami mengajukan pembangunan jalan ini sudah lama, lewat Musrenbang," ujarnya.


Warga berharap jalan tua Kedungwungu-Lebaksiu Tegal ini nantinya dibangun dengan kualitas tinggi, langsung menggunakan cor beton agar awet dan bisa dilalui kendaraan roda empat atau lebih. 


Hal ini sangat penting untuk mendukung distribusi hasil pertanian, kebutuhan material bangunan, dan aktivitas perdagangan harian.


“Kalau jalan mulus, bisa angkut hasil panen ke pasar Slawi dengan mudah. Tidak harus bayar ongkos mahal lewat jalan memutar,” imbuhnya.


Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Tegal Teguh Dwijanto Rahardjo, menjelaskan bahwa proyek jalan tembus Kedungwungu-Lebaksiu masih dalam tahap usulan dan pemantauan.


“Masih kami kaji. Karena ini di hutan lindung Perhutani, harus kami pastikan perizinannya jelas. Nanti bisa jadi pelaksanaannya lewat TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa)," tukasnya.