Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

IPM Masih Rendah, PGRI Batang: Guru Jadi Gawang Terakhir Pendidikan

Wabup Batang Suyono saat membuka konferensi kerja PGRI Kabupaten Batang
Kamis 19 Juni 2025

BATANG — Mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa dicapai hanya dengan kecanggihan teknologi.


Lebih dari itu, dibutuhkan sosok guru yang bukan sekadar pintar, tapi juga bermoral dan berintegritas.


Itulah yang ditegaskan Wakil Bupati Batang, Suyono, saat membuka Konferensi Kerja Kabupaten I PGRI Batang Masa Bhakti XXIII.


“Saya ucapkan terima kasih atas pengabdian dan dedikasi para guru. Tapi tentu saja, itu semua harus dibarengi dengan integritas yang tinggi,” ujar Suyono, Kamis 19 Juni 2025.


Menurutnya, masyarakat Batang berhak memperoleh ilmu dari pendidik yang tidak hanya ahli di bidangnya, tetapi juga menjadi teladan.


Suyono tak menampik bahwa masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Batang menjadi tantangan nyata.


“IPM kita masih cukup rendah. Maka, sinergi seperti ini harus terus dibangun agar Batang bisa lebih baik di bidang pendidikan,” tegasnya.


Ia pun mengingatkan agar kasus-kasus yang pernah mencoreng profesi guru di Batang tidak terulang lagi.


Sebagai langkah konkret, Suyono mendorong adanya edukasi dan sosialisasi berkala untuk menjaga kualitas dan profesionalitas guru.


“Guru sejahtera, guru hebat, dan guru berintegritas adalah kunci utama untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” tandasnya.


Ketua PGRI Kabupaten Batang, Arief Rohman, menimpali bahwa peningkatan kualitas guru bukan soal administrasi belaka.

“Ini soal masa depan. Guru harus terus ditingkatkan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap,” jelas Arief.


Ia menekankan bahwa pembelajaran berkualitas hanya lahir dari guru yang siap secara holistik—dari segi keilmuan maupun mentalitas.


Konferensi kerja ini juga dimanfaatkan sebagai ruang evaluasi organisasi dan penyusunan program kerja PGRI Batang ke depan.


Tak hanya soal kompetensi, kesejahteraan guru juga menjadi topik sentral dalam forum ini.


Arief menilai bahwa guru yang sejahtera lebih siap menjalankan perannya sebagai agen perubahan.


“Peran guru sangat dominan. Maka, tak bisa dilepaskan dari upaya meningkatkan kesejahteraan mereka, terutama di Kabupaten Batang,” ujarnya.


PGRI menargetkan adanya peningkatan insentif, pelatihan berkelanjutan, serta perlindungan hukum yang layak bagi para guru.


Forum ini menjadi momen reflektif bahwa guru tak boleh hanya menjadi pengajar kurikulum, tapi juga pendidik karakter.


Batang butuh guru yang tidak hanya mengajar soal angka dan huruf, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan kepedulian.


Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, para guru di Batang kembali diingatkan: kualitas bangsa ini dimulai dari ruang kelas

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube