BATANG — Pengukuhan pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Batang periode 2025–2030 berlangsung saat peringatan Hari Batik Nasional. Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa, menegaskan bahwa lembaganya punya tanggung jawab besar menjaga warisan batik Batang yang kini menghadapi tantangan serius.
“Empat bulan lalu kami dapat bantuan teknikal dari BI Tegal, mengirimkan expert-expert batik untuk meneliti Batik Rifaiyah, Batik Gringsingan, dan memetakan penyebab Batik Batang sulit berkembang,” ujar Faelasufa, Senin 2 Oktober 2025.
Ia menambahkan, penelitian itu mengungkap isu krusial yaitu salah satunya isu kepunahan. Contohnya dari 24 motif Batik Rifaiyah, kini hanya tersisa 16 motif yang masih ada.
Menurut Faelasufa, salah satu faktor yang membuat Batang tertinggal dari Pekalongan adalah absennya sosok maestro batik.
“Di Pekalongan ada maestro-maestro. Di tingkat nasional, orang Jakarta rela menunggu karya maestro batik hingga satu tahun. Nah, di Batang ini, siapa maestronya? Belum terlihat,” tegasnya.
Ia khawatir tanpa regenerasi maestro, Batik hanya akan tinggal cerita di buku sejarah.
Selain itu, rendahnya minat generasi muda Batang untuk meneruskan tradisi membatik semakin memperbesar ancaman punahnya warisan budaya.
Untuk memantik semangat generasi muda, Dekranasda Batang menggelar lomba mewarnai dan desain batik yang diikuti 231 peserta dari jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat.
“Alhamdulillah dua dari banyak program kerja sudah selesai. Anak-anak Batang sebenarnya punya talenta membatik. Kalau sering ikut lomba, mereka bisa merasa mampu,” ujar Faelasufa.
Sebagai bentuk apresiasi, pihaknya memberikan penghargaan khusus kepada dua anak penyandang disabilitas yang ikut berpartisipasi dalam lomba desain motif khas Batang.
Dekranasda juga tengah menyiapkan dokumentasi perjalanan lomba selama dua hingga tiga bulan terakhir sebagai bagian dari laporan kinerja.
“Orang bisa sukses atau tidak adalah soal ekspektasi menyelesaikan tugas-tugasnya. Lomba ini melatih anak-anak berani mencoba,” tambahnya.
November mendatang, Dekranasda berencana menggelar lomba mengarang cerpen untuk memperkaya kreativitas pelajar Batang. Bupati Batang M Faiz Kurniawan menegaskan bahwa tumbuhnya kawasan industri harus diimbangi dengan penguatan sektor budaya.
“Kunci pengembangan kota jasa adalah sebagai destinasi, bukan hanya transit. Kita harap transit yang satu-dua jam bisa jadi sehari-dua hari untuk pariwisata, tahunan untuk investasi, dan ratusan tahun untuk infrastruktur,” kata Bupati Faiz.
Menurutnya, sebuah kota bisa menjadi tujuan wisata maupun investasi jika masyarakatnya berbudaya, tidak hanya dari perilaku tetapi juga dari karya seni dan kerajinan.
Ia menyebut Batik Rifaiyah dan Gringsingan dapat menjadi ikon yang memperkuat Batang sebagai destinasi budaya sekaligus kota jasa.
Dengan berbagai tantangan dan peluang tersebut, Dekranasda Batang menegaskan bahwa regenerasi pengrajin dan lahirnya maestro batik baru menjadi kunci.