BATANG — Pemerintah Kabupaten Batang menggulirkan langkah awal menuju Batang Zero Talasemia. Itu adalah program ambisius yang ditujukan untuk mencegah kelahiran anak dengan penyakit talasemia melalui edukasi dan deteksi dini.
Kolaborasi dimotori oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Batang bersama Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Batang.
Gerakan ini menyoroti urgensi peningkatan kesadaran publik terhadap penyakit genetik yang selama ini cenderung luput dari perhatian.
“Saya yakin belum banyak masyarakat yang paham apa itu talasemia,” ujar Ketua PKK Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan saat menerima audiensi POPTI di Rumah Dinas Bupati Batang, Selasa 29 Juli 2025.
Talasemia merupakan penyakit kelainan darah turunan yang memaksa penderitanya menjalani transfusi darah seumur hidup.
Di Batang, tercatat 41 penyandang talasemia, dengan 27 di antaranya masih anak-anak.
“Untuk mewujudkan Batang Zero Talasemia memang tidak mudah. Tapi kami ingin upaya edukasi ini dimulai dari Posyandu, karena kader Posyandu adalah garda terdepan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat,” tegas Faelasufa.
Program ini akan difokuskan pada sosialisasi pencegahan, skrining darah calon pengantin, serta edukasi kepada keluarga dan masyarakat melalui kader-kader Posyandu.
“Beberapa ide kerja sama sudah kami bahas, dan kami berharap bisa segera merealisasikannya secara terukur dan berkelanjutan,” tambahnya.
Ketua POPTI Cabang Batang, Nety Widjayanti, menyambut baik komitmen tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa masyarakat perlu memahami pentingnya deteksi dini dan larangan pernikahan antar pembawa sifat talasemia untuk memutus rantai penyebaran.
“Biaya pengobatan talasemia sangat mahal. Pasien harus transfusi darah dan minum obat seumur hidup. Untungnya, kini sudah ditanggung BPJS Kesehatan,” ungkap Nety.
Namun, ia menegaskan, fokus utama adalah mencegah, bukan menunggu anak lahir dan terkena penyakit.
“Dengan program ini, kami berharap semakin banyak masyarakat yang sadar dan terlibat. Semakin cepat kita bergerak, semakin banyak generasi yang bisa kita selamatkan,” tegasnya.
Program "Batang Zero Talasemia" ini dirancang untuk menjadi agenda lintas sektor.
Tak hanya melibatkan PKK dan Dinas Kesehatan, tetapi juga lintas lembaga seperti KUA, sekolah, hingga organisasi kemasyarakatan yang bisa menjadi agen perubahan di masyarakat.