Pekalongan — Di belakang rumah sederhana bekas salon rias pengantin milik Hj. Munasifah, di Kampung Pabean RT 5 RW 4, Kelurahan Kadukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara, terdengar suara cetakan kayu berpadu aroma malam yang khas.
Di sinilah Ahmad Barozi, berdiri di antara 18 karyawannya dengan terampil mengarahkan proses pembuatan kain batik untuk daster, produk yang menjadi sandaran hidup bagi keluarganya dan puluhan warga sekitar.
Dinding rumah yang separuh difungsikan sebagai bengkel batik itu masih menyimpan berbagai pernak-pernik dekorasi salon lama milik sang ibu. Di antara aroma malam dan warna-warna mencolok dari kain yang dijemur, cerita panjang tentang warisan batik Pekalongan masih terus dihidupkan.
Barozi adalah generasi kedua penerus usaha batik yang dirintis ayahnya, H. Abdul Faqih, sejak tahun 1990-an. Saat itu, sang ayah memproduksi sarung dan kain selendang wanita dengan metode batik tulis, jauh sebelum teknik cap berkembang pesat seperti sekarang.
“Dulu orang tua saya badean (pembatik), buat sarung dan selendang wanita. Tapi setelah muncul sablon, usaha mulai sepi,” kenang Barozi sambil mengamati sejumlah pekerja, Rabu 8 Oktober 2025.
Sekitar tahun 1993, saat berusia 22 tahun, Barozi mulai mengambil alih usaha tersebut. Ia melihat perubahan tren pasar batik tulis mulai ditinggalkan karena kalah bersaing harga dengan sablon. Dari sinilah, ia mengambil langkah berani dengan mengalihkan fokus produksi ke batik untuk daster, mengikuti selera pasar yang lebih dinamis.
Menariknya, Barozi tak menyebut dirinya sebagai pengusaha. Ia lebih nyaman disebut “buruh pembabar”, istilah lokal untuk mereka yang mengerjakan pesanan batik berdasarkan permintaan pihak lain. Sistemnya sederhana: bos atau pengepul mengirim mori (kain putih) ke rumahnya, lalu Barozi dan tim mengolahnya hingga menjadi batik siap jual.
“Sejak dulu sistemnya buruh. Jadi saya enggak buat sendiri terus dijual sendiri. Orang-orang titip ke sini, nanti kita proses jadi batik, lalu diambil lagi,” ujarnya.
Kini, dengan 18 hingga 20 pekerja aktif, sebagian besar warga sekitar, rumah kecil itu menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di lingkungan Pabean. Dari generasi ke generasi, mereka belajar mencetak motif, mencampur warna, hingga menguasai resep rahasia pewarna alami yang diwariskan turun-temurun.
Usaha Barozi bukan tanpa ujian. Rob yang merendam wilayah Pabean hingga setengah meter pada tahun 2016–2017 sempat membuat produksi berhenti total selama tiga tahun. Belum pulih benar, pandemi Covid-19 datang dan membuat pesanan menurun drastis.
“Pas Covid ya sepi banget. Kadang seminggu cuma kerja dua hari. Tapi alhamdulillah, enggak sampai tutup. Rezeki itu sudah ada yang ngatur,” katanya lirih.
Dulu, saat masa keemasan, Barozi bisa memproduksi hingga 100 kodi batik per minggu dengan omzet mencapai Rp10 juta–Rp15 juta. Kini, jumlah itu menurun hampir separuh. “Sekarang paling 50 sampai 70 kodi per minggu. Namanya juga buruh, tergantung orderan,” tuturnya.
Batik hasil tangan Barozi dikenal tanpa motif khas tertentu. Ia menyebutnya “motif bebas”, karena mengikuti pesanan pembeli. Dalam sehari, pola bisa berganti sesuai permintaan pasar. Meski tanpa kekhasan tertentu, keindahan warna dan ketelitian proses cap menjadikan karyanya tetap diminati, terutama oleh pedagang daster dan kain santung di Pekalongan.
“Kalau di sini bebas, enggak seperti Kalimantan atau daerah lain yang punya motif khas. Kita ikut permintaan aja,” katanya.
Dalam satu lembar kain, tersimpan kisah perjuangan. Dari proses mencap dengan tembaga atau kayu, hingga tahap “nyolet” atau menutup bagian tertentu dengan malam cair, semuanya dilakukan manual. Setelah itu, kain direndam, dikeringkan, dan siap disetor kembali kepada pemesan.
Ketika ditanya soal digitalisasi dan pemasaran online, Barozi menggeleng pelan. Ia mengaku ingin mencoba menjual batiknya langsung lewat media sosial, namun terkendala modal dan kemampuan teknologi.
“Aslinya pingin jualan sendiri, tapi ya kebentur modal. Saya buruh, bukan dagang,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski demikian, semangat regenerasi tetap hidup. Dari tiga anaknya, putra tengah kini mulai belajar mengelola pewarna dan teknik pencapan. “Ya, biar nanti bisa nerusin. Minimal ngerti prosesnya,” kata Barozi penuh harap.
Di tengah persaingan industri batik modern yang makin ketat, kisah Ahmad Barozi menjadi potret kecil tentang ketekunan, kejujuran, dan cinta terhadap tradisi lokal. Dari ruang sempit di belakang rumahnya, ia menjaga denyut kehidupan ekonomi kecil masyarakat sekitar—tanpa pamrih besar, tanpa gemerlap, hanya keyakinan bahwa batik bukan sekadar kain, tapi warisan jiwa.
“Selama masih ada kain putih dan malam, saya akan tetap membatik,” tutup Barozi sambil menatap lembaran kain yang berayun lembut di jemuran.
Kepala Koperasi Bangun Bersama TBIG Pekalongan, Nanang Tri Purwanto, menuturkan bahwa kolaborasi dengan perajin telah berlangsung sejak satu tahun lalu. Awalnya, kerja sama tersebut hanya sebatas uji coba dengan produksi kecil, namun kini telah berkembang pesat dan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi para pengrajin lokal.
“Kami memulai dengan satu dua kodi saja. Sekarang sudah berkembang jadi lima hingga sepuluh kodi per bulan. Tujuannya sederhana, agar pengrajin seperti Bu Hajah Munasifah memiliki tambahan omzet dan bisa memproduksi lebih banyak,” ujar Nanang saat ditemui di lokasi pembatikan.
Menurut Nanang, TBIG melalui koperasi tidak hanya memberikan pesanan, tetapi juga menyediakan bahan baku dan pendampingan produksi. Skemanya sederhana namun efektif, yakni TBIG menyalurkan kain bahan dasar ke koperasi, kemudian koperasi mendistribusikan ke pengrajin seperti Munasifah untuk proses pembatikan mulai dari pencapan hingga pewarnaan.
“Kami mensuplai bahan baku kain dari TBIG, kemudian dibawa ke tempat pembatikan. Setelah jadi kain bermotif, produk dikembalikan lagi ke koperasi untuk diteruskan ke UMKM penjahit. Dari situ lahir daster-daster batik khas Pekalongan yang dijual di butik-butik mitra kami,” jelasnya.
Tahapan produksi ini menciptakan rantai nilai ekonomi lokal yang melibatkan banyak pihak yakni pengrajin batik, penjahit UMKM, hingga butik mitra di luar kota. Semua proses berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Proses di rumah batik Munasifah dikenal dengan istilah pembabaran yaitu tahap mencetak dan mewarnai kain hingga siap dijahit. Kain bermotif inilah yang nantinya dijadikan bahan baku daster batik berbagai model, seperti daster tali atau daster lowong, yang menjadi produk unggulan koperasi.
“Kami memang fokus di bahan kainnya, bukan dasternya. Jadi setelah kain jadi, kami serahkan ke UMKM penjahit binaan koperasi. Nanti setelah produk siap, kami lakukan QC (Quality Control) sesuai standar butik, baru didistribusikan,” terang Nanang.
Nanang menyebut, dukungan TBIG tidak berhenti di tahap produksi saja. Koperasi berperan aktif dalam menjembatani distribusi dan pemasaran hasil produksi UMKM ke berbagai daerah.
“Begitu produk selesai, koperasi menyalurkannya ke butik-butik mitra kami di luar kota. Kami ingin memastikan setiap hasil karya pengrajin bisa menjangkau pasar lebih luas,” katanya.