Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Temuan Fosil Gajah ‘Raksasa’ di Kudus Gemparkan Dunia

Bupati Samani memantau proses ekskavasi fosil gajah purba di situs purbakala Patiayam
Desa Terban Kudus

KUDUS — Proses ekskavasi temuan kerangka gajah purba di Situs Purbakala Patiayam Kabupaten Kudus, kini makin menunjukkan titik terang. Memasuki pekan pertama penggalian, sekitar seperempat bagian dari kerangka gajah purba ini telah ditemukan.


Tahapan ekskavasi terhadap fosil gajah purba jenis Elephas Hysudrindicus yang diperkirakan hidup 800.000 hingga 450.000 tahun silam ini, dilakukan tim arkeolog di Situs Purbakala yang berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. 


Upaya penggalian yang dimulai sejak 9 Juni 2025 ini, dijadwalkan berlangsung hingga 24 Juni mendatang. Ekskavasi dilakukan tim gabungan dari Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).


Bahkan Yayasan Dharma Bakti Lestari, para arkeolog, paleontolog, teknisi replika, serta warga local pun dlibatkan dalam proses ekskavasi yang berada di tengah kebun jagung.


Fokus penggalian yang dilakukan tim gabungan itu, yakni mengungkap bagian-bagian fosil yang tertanam di kedalaman sekitar 50 sentimeter dari permukaan tanah.


 “Sudah terlihat tulang kaki, paha, lengan, sebagian tulang belakang, tulang rusuk, tengkorak, hingga rahang bawah. Proses pengangkatan total masih akan didiskusikan lebih lanjut,” ujar koordinator lapangan proses ekskavasi, Dama Qoriy Arjanto. 


Dama menyebut, tim juga berencana membuat cetakan negatif dari bagian fosil yang telah terbuka sebagai langkah awal rekonstruksi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Elephas hysudrindicus, juga hidup berdampingan dengan spesies purba lainnya. Seperti Stegodon, yang juga ditemukan di kawasan Situs Patiayam. 


“Fosil-fosil ini menjadi bukti penting evolusi dan migrasi fauna di wilayah Asia Tenggara,” ucap Dama, yang juga dosen Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (17/6/2025)


Dama mengakui, medan penggalian kali ini cukup bersahabat. Sebab sebagian besar fosil sudah tampak dari permukaan. Namun, faktor cuaca menjadi tantangan utama selama proses ekskavasi.


Kegiatan ekskavasi di Situs Purbakala Patiayam juga bertepatan dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI). 


Sebanyak 85 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan pendamping lapangan turut melakukan praktik arkeologi langsung di lokasi.

“KKL ini bukan sekadar tugas akademik, tapi menjadi latihan berpikir kritis dan ilmiah di lapangan,” jelas penanggung jawab kegiatan, Prof. R. Cecep Eka Permana.


Mahasiswa terbagi dalam 12 kelompok dan setiap hari melakukan survei, pengukuran kontur tanah, hingga menyusun kotak ekskavasi sebagai tahap awal. Kegiatan ini berlangsung dari 10 hingga 22 Juni 2025 sebagai bagian dari mata kuliah wajib semester akhir.


Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat pun tampak hadir memantau proses ekskavasi secara langsung. Ia menyatakan dukungannya agar fosil-fosil yang ditemukan segera dipindahkan ke museum untuk konservasi dan edukasi publik. 


Ia juga mendorong pengembangan kawasan ekskavasi menjadi destinasi wisata edukatif.


“Kami optimistis Situs Patiayam menyimpan banyak potensi sejarah. Ekskavasi harus terus didukung agar bisa mengungkap lebih banyak warisan purbakala,” ujar Lestari, yang akrab disapa Rerie.


Ia mengakui bahwa upaya menjadikan Situs Patiayam sebagai cagar budaya nasional masih menghadapi kendala administratif. Hal ini karena lokasi situs berada di perbatasan dua wilayah, yakni Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati.


Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyambut positif langkah Kementerian Kebudayaan. Ia menyebut fosil-fosil purba yang ditemukan di Patiayam adalah berkah besar bagi Kabupaten Kudus.


“Ini kebanggaan kami. Semoga bisa menjadi situs nasional bahkan dikenal dunia,” katanya.


Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Kudus mempersiapkan langkah tukar guling tanah desa yang digunakan untuk museum agar status lahan menjadi lebih jelas. Museum Patiayam ke depan akan dibuka lebih inklusif dan ramah bagi anak-anak muda untuk belajar dan berkegiatan.


“Kami ingin Patiayam bukan sekadar lokasi penelitian, tapi pusat edukasi arkeologi yang terbuka untuk semua,” tukas Sam’ani.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube