Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Sidak ke SPPG di Kudus, Wabup Bellinda Soroti Ketiadaan Piranti Pembasmi Lalat di Dapur MBG

Wabup Bellinda dan Kepala Disdikpora Kudus temukan karyawan SPPG tak gunakan sarung tangan.

KUDUS — Banyaknya kasus siswa keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah, memaksa Pemkab Kudus Jawa Tengah melakukan monitoring evaluasi atau Monev.


Langkah cepat ini dilakukan Wakil Bupati (Wabup) Kudus, Bellinda di salah satu dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.


Yang mengejutkan, Wabup perempuan berlatar belakang Sarjana Kedokteran ini menemukan pemandangan yang kurang mengenakkan. Bellinda menyoroti banyaknya lalat di dapur gizi tersebut. 


Bahkan Bellinda tampak beberapa kali berbicara dengan Ketua SPPG, Nova Triadi menyoal lalat dan makanan yang belum ditutup. Bellinda akhirnya menyarankan kepada Ketua SPPG yang bersangkutan agar kejadian itu segera dibenahi. 


Usai dari ruang khusus pengemasan makanan, Bellinda pun makin penasaran. Ia menuju tempat penampungan sampah sisa sisa bahan masakan, yang lokasinya berada di belakang bangunan dapur. 


Bellinda juga menyarankan pihak pengelola SPPG untuk menangani sampah dengan manajemen yang baik, agar tidak memicu datangnya lalat. Ia juga meminta SPPG untuk melengkapi alat pembasmi serangga atau insect killer yang bekerja dengan cahaya UV. 

”Hari ini kami cek dapur MBG. Di sini belum ada insect killer dan masih ada lalatnya. Selain itu makanannya tidak ditutupi. Kami evaluasi tersebut agar segera dibenahi,” ujar Bellinda kepada sejumlah wartawan. 


Selain persoalan lalat dan penanganan sampah, Bellinda juga melihat adanya petugas di dapur SPPG yang belum memakai masker dan sarung tangan. Menurutnya, penyiapan makanan harus diperbaiki agar higienitas tetap terjaga. 


”Untuk yang bagian memasak cara mengolah makanannya harus terjaga higienitasnya. Harus pakai masker dan sarung tangan. Karena bahan makanan yang dipegang itu kan sudah siap konsumsi,” tutur Wabup berusia 26 tahun ini. 


Dalam monitoring kali ini, Bellinda tampaknya lebih fokus menyoroti ketiadaan perangkat insect killer untuk membunuh lalat di lokasi SPPG. 


”Program MBG ini kan untuk siswa. Apapun yang disajikan harus baik, karena imun (daya tahan tubuh) siswa kan beda-beda. Sehingga higienitasnya harus terjaga sejak dari dapur,” pinta Bellinda. 

SPPG di Kecamatan Bae ini diminta benahi kebersihan dapur dan kualitas menu MBG.

Temukan Buah Tak Layak Konsumsi


Sebelum datang ke SPPG tersebut, Wabup Bellinda mengaku sempat menerima laporan temuan adanya buah busuk yang disajikan kepada siswa dari di dapur MBG) di Desa Gondangmanis. 


”Sempat ada kejadian buah busuk, makanya kami cek ke sini untuk melakukan evaluasi,” tutur Bellinda. 


Wabup Bellinda menyebut bahwa dapur MBG di Desa Gondangmanis itu sudah berjalan selama tiga pekan. Namun demikian, pihaknya menilai keberadaan dapur SPPG yang bersangkutan masih perlu dilakukan evaluasi. 


Tak hanya itu, Bellinda pun menyarankan pengelola SPPG terkait agar mekanisme penyajian menu MBG diperhatikan dari segi kesehatan dan higienitasnya. Tentunya agar menu MBG yang dikonsumsi anak-anak terjaga higienitasnya. 


Demi kelancaran pelaksanaan program MBG di Kota Kretek, Bellinda menegaskan komitmennya mengawal program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini agar layak konsumsi. 


Dalam waktu dekat, Bellinda segera melibatkan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus serta pihak dinas terkait lainnya untuk mengecek di semua dapur SPPG di Kretek. 


”Kami sering meninjau dan mengevaluasi bersama Disdikpora Kudus. Kami lakukan monitoring dan pengecekan ke dapur-dapur MBG,” ucap Bellinda. 


Respon Kepala SPPG


Temuan adanya sejumlah lalat yang berada di dapur MBG, pun tak dibantah Ketua SPPG Gondangmanis, Nova Triadi. Pihaknya mengaku segera memperbaiki hal tersebut. 


”Iya (lalat) memang masih ada. Kami akan mencari solusi. Nanti kami sediakan insect killer untuk membasmi lalat,” ucap Nova yang dikonfirmasi wartawan pada Rabu (24/9/2025). 


SPPG yang dikelola Nova selama ini sudah berupaya maksimal dalam menanggulangi keberadaan lalat dengan menggunakan kipas angin. Sehingga lalat tidak hinggap ke menu makanan. 


”Sebenarnya kami sudah menanggulangi lalat dengan kipas angin kecil,” imbuhnya


Nova Triadi juga membenarkan adanya temuan kualitas buah yang dikeluhkan siswa penerima MBG. Namun ia menyebut bahwa buah itu bukan busuk, hanya saja tampilan luar dari buah tersebut kurang layak untuk dikonsumsi.


Nova memang mendapatkan laporan temuan satu buah tak layak konsumsi dari guru di salah satu sekolah yang menjadi sasaran menu MBG. Sekolah yang bersangkutan berada di Desa Gondangmanis. 


”Menurut saya bukan busuk. Tetapi kurang layak. Ada satu porsi di hari yang berbeda. Temuannya jeruk dan pisang kurang layak konsumsi hanya sekali terjadi. Itu (temuan) di hari berbeda minggu kemarin. Hanya satu porsi saja,” tutur Nova. 


Nova menyebut bahwa kejadian akibat kurang teliti saat melakukan proses penyortiran buah sebelum didistribusikan ke sekolah. Karena itu, terdapat buah yang terlewat saat proses disortir. 


”Karena kelewat saat proses sortir. Kalau menurut saya bukan busuk, tetapi bentuknya kurang bagus. Ke depannya akan kami evaluasi agar lebih bagus,” tukas Nova. 


Atas keluhan itu, Nova langsung berkoordinasi dengan pihak suplier buah buahan yang memasoknya ke SPPG yang dipimpinnya. Pihaknya segera melakukan pembenahan cepat untuk melakukan penyortiran secara ketat kualitas buah agar lebih baik kondisi saat disantap para siswa di sekolah. 


Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube