Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Manfaatkan Operasi Katarak dengan BPJS Kesehatan, Penglihatan Partiyem Normal Kembali

GROBOGAN Partiyem (66) merasa lega setelah menjalani operasi katarak di RSUD dr. Soedjati Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Kamis pagi, 24 Juli 2025. Apalagi operasi kataraknya menggunakan pelayanan BPJS Kesehatan, sehingga tidak perlu bayar alias gratis.


Bagi pasien program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mengalami gangguan penglihatan dan memerlukan pelayanan untuk operasi katarak, maka Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat pasien terdaftar pun bisa merujuknya secara langsung ke rumah sakit.


"Sudah sejak lima bulan penglihatan ibu menurun. Lalu kami periksakan ke puskesmas hingga akhirnya mendapat rujukan untuk operasi katarak di RS Soedjati Purwodadi," ungkap Hartini saat mendampingi ibunya, Partiyem, yang telah selesai menjalani operasi katarak.


Seiring waktu, penyakit katarak terus berkembang, menyebabkan kerusakan penglihatan secara progresif hingga kebutaan. Kendati demikian, kebutaan akibat katarak dapat dicegah dengan operasi katarak yang merupakan satu-satunya modalitas terapi untuk memperbaiki fungsi penglihatan.


Dengan deteksi sedini mungkin serta mengetahui faktor yang memengaruhi penyakit katarak, maka diharap dapat meningkatkan pencegahan penurunan jumlah bahkan memperbaiki kualitas hidup penderitanya.


Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), diperkirakan ada sebanyak 42% kasus kebutaan akibat katarak berasal dari Asia Tenggara.


Adapun Indonesia merupakan negara dengan angka kejadian katarak yang tertinggi di Asia Tenggara, dengan presentase sebesar 1,5%. Sedangkan di dunia, tingkat kebutaan di Indonesia pada urutan ketiga dengan presentase sebesar 1,47%.


Merujuk data dari Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan (IAPB), tahun 2020, jumlah penderita katarak mencapai lebih dari 100 juta orang, dimana 17 juta di antaranya mengalami kebutaan permanen.


Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) mencatat, ada 8 juta orang di Indonesia mengalami gangguan penglihatan, dengan rincian sebanyak 6,4 juta termasuk kategori sedang dan berat. Sedangkan 1,6 juta mengalami kebutaan.


Lalu, sebanyak 81,2% atau sekitar 1,3 juta orang yang mengalami gangguan penglihatan dari kasus kebutaan tersebut disebabkan oleh katarak.


Kebutaan masih merupakan masalah kesehatan baik secara global maupun nasional. Katarak termasuk penyebab kebutaan utama di dunia yaitu 34,47%, dan disusul dengan gangguan refraksi seperti rabun jauh, rabun dekat, mata silinder yang tidak dikoreksi (20,26%), serta glaukoma (8,30%).


Adapun di Indonesia, katarak menjadi penyebab utama kebutaan yaitu sebesar 77,7%, diperkirakan insiden katarak sebanyak 0,1% dari jumlah populasi sehingga jumlah kasus baru katarak di Indonesia diperkirakan sebesar 250.000 per tahun.


Penduduk Indonesia juga mempunyai kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibanding penduduk di daerah subtropis, dimana sekitar 16 – 22% penderita penyakit katarak yang dioperasi berusia di bawah 55 tahun.


Sebagai salah satu gangguan penglihatan, penyakit katarak memiliki implikasi multidimensi, antara lain dampak yang berkaitan dengan fisik seperti penurunan visus mata yang berpengaruh kepada tajam penglihatan.


Lalu ada dampak mental atau psikologis mulai dari emosi yang tidak stabil, depresi, hingga kepuasan dalam menjalani hidup dan rasa bahagia.


Kemudian juga dampak secara sosial yaitu keterbatasan pada kegiatan sosial dan hubungan dalam bermasyarakat serta dampak fungsional seperti hambatan pada mobilitas, aktivitas sehari hari dan kemampuan dalam merawat diri.