Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Brand Kopi Kudus Siap Gantikan Kopi Muria, Angkat Potensi Lokal ke Level Global

Brand Kopi Muria berjenis Robusta diusulkan Bupati Kudus untuk diganti menjadi Kopi Kudus. (arief pramono/diswayjateng)

KUDUS — Brand Kopi Muria diusulkan menjadi Kopi Kudus. Langkah ini dalam upaya memperkuat identitas daerah, sekaligus mengangkat potensi lokal ke panggung global.


Usulan cerdas itu dikatakan Bupati Kudus, Samani Intakoris saat mengunjungi stand kopi Muria di Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf). Agenda festival ini digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus di Balai Jagong Wergu Wetan belum lama ini.


Bupati Samani menyebut, nama Muria dinilai tidak eksklusif milik Kudus. Sebab nama Muria mencakup wilayah Kabupaten Pati dan Jepara. Karena itu, ia pemberian nama “Kopi Kudus” tentu memberikan identitas yang lebih spesifik dan kuat. Selain itu, memperkuat posisi Kudus sebagai daerah penghasil kopi Robusta unggulan dari Pegunungan Muria.


“Kalau saya kepenginnya jangan Kopi Muria, tapi Kopi Kudus saja. Karena Muria itu juga milik Pati dan Jepara,” ujar Bupati Sam’ani seusai mencicipi kopi di stand pameran.


Tentu saja usulan rebranding ini mendapat respon positif dari Ketua Ekonomi Kreatif (KEK), Valerie Yudistira Pramudya. Salah satu anggota Komisi A DPRD Kudus ini menyatakan dukungannya secara penuh.

“Saya sangat mendukung usulan dari Pak Bupati. Ini langkah strategis agar kopi dari Kudus punya identitas yang lebih kuat di pasar nasional maupun internasional,” ujar Valerie.


Valeri mengaku siap mengawal langkah rebranding Kopi Kudus, dengan melibatkan para petani dan pengusaha kopi lokal yang selama ini telah membesarkan nama kopi Muria.


Kehadiran Kopi Muria merupakan warisan sejarah dari masa kolonial Belanda. Jenis Kopi Robusta ini mulai dikembangkan sejak tahun 1825 di lereng Gunung Muria, khususnya di Desa Colo, Lau, dan Japan di Kecamatan Dawe, Kudus.


Produksi kopi ini bermula dari kebijakan tanam paksa yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes Graaf Van Den Bosch. Sejak saat itu berkembang menjadi komoditas unggulan dengan cita rasa khas dan kualitas premium.


Sebagian besar lahan kopi di Kudus ditanami jenis robusta, meskipun terdapat pula jenis arabika. Kekayaan rasa kopi ini merupakan hasil dari tanah subur dan kondisi geografis Gunung Muria yang ideal untuk budidaya kopi berkualitas tinggi.