PURWOREJO — Ribuan warga Desa Kesawen Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo, membanjiri Lapangan Desa Kesawen pada, Senin 18 Agustus 2025 dalam rangka peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Bukan sekadar lomba atau pawai, tahun ini panggung utama dimeriahkan dengan tari kolosal Cing po ling dan Padang Bulan, yang menyatukan semangat tradisi dan kebersamaan lintas generasi.
Cingpoling bukanlah pertunjukan biasa. Ia adalah kesenian warisan leluhur Desa Kesawen yang telah hidup sejak abad ke-17. Tak sekadar tarian, Cing po ling dulunya merupakan taktik cerdas para pengawal demang untuk menyamar sebagai penari agar bisa membawa perlindungan rahasia ke Kadipaten.
"Dulu, jenderal tidak boleh membawa pasukan terbuka. Maka, gerakan tari digunakan sebagai kedok. Musiknya pun bisa jadi alat bela diri," ujar sesepuh Cing po ling, Marijo.
Gerakannya lincah, tajam, namun penuh wibawa. Busana yang dikenakan bukan sekadar dekoratif, melainkan sarat filosofi dan strategi. Tak heran jika sejak 2021, Cingpoling telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional.
Tak hanya menampilkan Cingpoling versi asli, panggung budaya juga menyuguhkan tari Padang Bulan, kreasi baru yang dirancang khusus untuk anak-anak usia sekolah dasar. Terinspirasi dari gerakan dasar Cingpoling, tarian ini menjadi upaya pengenalan nilai budaya sejak dini.
Sementara itu, untuk siswa SMA, dikembangkan pula tari Gula Kelapa sebagai versi kontemporer dengan akar gerakan tradisional.
Plt Kepala Desa Kesawen, Nanang menyatakan, bahwa semarak tahun ini juga dirasakan di dua pedukuhan, yaitu di Sawen dan Kalitepus. Di Kalitepus, masyarakat mengarak gunungan hasil bumi menggunakan kendaraan hias berbentuk kapal, sebuah simbol perjuangan dan harapan.
"Baru kali ini Kalitepus menampilkan karnaval semeriah ini. Yang paling membanggakan, mereka juga menampilkan Cingpoling asli Kesawen," ujarnya.
Pelatih kesenian lokal, Rianto Purnomo mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusiasme warga. Ia menyebut tahun ini sebagai titik balik kebangkitan kesenian Cingpoling di tengah arus budaya luar.
"Anak-anak dan orang tua tampil bersama. Ini bukti bahwa kami siap menjaga warisan budaya. Bahkan tahun depan, Cingpoling akan tampil dalam kolaborasi internasional bersama Jepang dan Taiwan," ucap Rianto.