Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Tanam Jagung Bareng Enam Desa, Pemkab Wonosobo Dukung Swasembada Pangan Nasional

Kegiatan penanaman jagung bersama perdana dilakukan di Desa Selokromo Kecamatan Leksono.

Wonosobo — Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional, Pemerintah Kabupaten Wonosobo mendukung pelaksanaan program penanaman jagung bersama yang digagas Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Kecamatan Leksono dan DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani). Program ini menjadi bagian dari strategi penguatan ketahanan pangan desa sekaligus mendukung swasembada pangan nasional.


Kegiatan penanaman jagung perdana dilakukan di Desa Selokromo, Kecamatan Leksono, Rabu (24/9/2025). Total enam desa terlibat dalam program ini, yakni Selokromo, Jonggolsari, Manggis, Besani, Durensawit, dan Sokokerto, dengan luasan lahan yang ditargetkan mencapai 10 hektare. Dari jumlah tersebut, 6 hektare telah siap tanam, sedangkan sisanya masih dalam tahap penyiapan.


Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Wonosobo, Bagus Setyo Wibowo, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pendampingan teknis terhadap budidaya jagung hibrida berbasis anggaran ketahanan pangan desa. Program ini juga menjadi implementasi dari Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2025 tentang percepatan swasembada pangan nasional.


"Kami melibatkan seluruh penyuluh pertanian se-Kabupaten Wonosobo untuk melakukan pengawalan, pendampingan, diseminasi, serta transformasi informasi dan teknologi. Tujuannya agar program ketahanan pangan ini berhasil dan berdampak nyata," ujar Bagus.


Guna meningkatkan efisiensi produksi, program ini menggunakan alat tanam jagung transplanter, yang mampu mempercepat proses tanam secara seragam dan hemat biaya.


Dalam hal pemasaran, pemerintah pusat melalui Perum BULOG telah menyatakan kesiapan untuk menyerap hasil panen jagung petani dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp5.500/kg, dengan kadar air maksimal 14 persen.


"Petani tidak perlu khawatir soal pasar. Kami akan dampingi dari proses budidaya sampai pascapanen," lanjut Bagus.


Panen jagung pertama ditargetkan berlangsung pada akhir Desember 2025, dan hasilnya akan dijadikan bahan evaluasi keberlanjutan program.

Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Nugroho Seto, menyampaikan apresiasi atas sinergi antara desa, penyuluh pertanian, dan perangkat daerah dalam mendukung program ketahanan pangan desa ini.


"Kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi perlu kolaborasi lintas sektor, terutama dari akar rumput," ujar Nugroho.


Ia menambahkan, model ini dapat direplikasi di kecamatan lain untuk mendukung diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah.


Direktur Utama BUMDESMA Laksana Mapan Leksono, Sistoyo menyebutkan, bahwa enam dari total 13 desa di Kecamatan Leksono telah sepakat mengonsolidasikan anggaran ketahanan pangan mereka untuk program bersama ini.


Program tematik difokuskan pada dua sektor utama, yautu budidaya jagung dan penggemukan sapi. Untuk budidaya jagung, anggaran yang dialokasikan mencapai Rp200–300 juta, sementara untuk penggemukan sapi, BUMDESMA menganggarkan Rp600 juta untuk 20 ekor sapi jenis unggul seperti limosin dan simental, bekerja sama dengan Desa Jonggolsari dan Sokokerto.


"Kami pilih jagung karena permintaan sangat tinggi, baik dari Bulog maupun pasar umum. Ini peluang besar bagi petani," jelas Sistoyo.


Evaluasi akan dilakukan setiap musim tanam untuk memastikan efisiensi dan keberlanjutan program.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube