Wonosobo — Gerakan tubuh yang selaras dengan irama biasanya lahir dari pendengaran. Namun, bagi anak-anak tuli, menari adalah perkara rasa, konsentrasi, dan isyarat visual yang menuntut ketelitian lebih.
Kini, lewat teknologi gelang getar bernama Pragati, hambatan itu mulai sirna. Wonosobo menjadi lokasi pertama implementasi alat ini, sebagai bagian dari pilot project nasional Inkubasi Teknologi Berbasis Budaya yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan RI, melalui Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Perlindungan HKI.
Pragati adalah inovasi berupa gelang yang bergetar mengikuti ketukan musik. Getaran inilah yang menjadi isyarat bagi anak-anak Tuli untuk berpindah gerakan saat menari, tanpa perlu melihat instruktur.
"Anak-anak Tuli juga punya hak untuk menari dan mengekspresikan diri. Dengan Pragati, cukup merasakan getaran di tangan, mereka tahu kapan harus bergerak," ujar dosen teknologi dari Universitas Bina Nusantara, Denny Prabowo.
Dikembangkan bersama Reza Pahlevi, praktisi mekatronika, Pragati lahir dari pertemuan mereka dalam ajang Kemah Budaya Kaula Muda (KPKM). Alat ini didesain untuk menjadi pendamping, bukan pengganti guru, sehingga anak bisa tampil lebih mandiri tanpa tergantung pada aba-aba visual.
"Kuncinya adalah menjadikan alat ini murah, praktis, dan mudah digunakan. Inovasi budaya tidak boleh jadi barang mewah," tambah Denny.
Kolaborasi antara seni, teknologi, dan pendidikan ini menjadi bukti bahwa inovasi bisa berpihak pada keadilan sosial.
"Wonosobo sekali lagi membuktikan bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan beriringan. Ini bentuk transformasi budaya yang progresif," jelas Denny.
Sebanyak 10 anak dari dua sekolah luar biasa di Wonosobo akan tampil di Jambore Nasional 2025 di Cibubur, 18 Agustus mendatang. Mereka membawakan tari 'Ginanjar Mulyo', adaptasi dari tari tradisional Lengger yang sarat makna filosofi tentang kemuliaan hidup.
Pelatih tari anak-anak Tuli sejak 1992 di LKS-PD Dena Upakara, Mulyani menyebut jika karya ini sebagai panggilan hati.
"Anak-anak ini bukan sekadar menari. Mereka menyampaikan rasa dan makna. Saya ingin membuktikan bahwa mereka istimewa dan pantas ada di panggung tertinggi," tuturnya.
Sebelum adanya Pragati, anak-anak hanya bisa mengikuti gerakan dengan memperhatikan instruktur dari sisi panggung. Keterlambatan isyarat kerap mengganggu harmoni tari.
"Saya pernah lupa memberi aba-aba saat tampil. Anak-anak bingung. Tapi sekarang, mereka tahu sendiri kapan bergerak. Hasilnya jauh lebih ekspresif dan percaya diri," tambah Mulyani yang pernah menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2023.
Lebih dari sekadar alat bantu, Pragati membuka peluang inklusivitas dalam pendidikan seni. Sekolah umum yang belum memiliki pembelajaran tari, seperti Don Bosco, kini bisa menjangkau siswa disabilitas tanpa kendala teknis berarti.
Kepala LKS-PD Dena Upakara, Suster Stefani, menyambut baik kehadiran Pragati dan menilainya sebagai terobosan.
"Kami bangga Wonosobo dipercaya menjadi tempat uji coba pertama. Ini bukan hanya soal alat, tapi juga tentang keberpihakan pada anak-anak kami," tandasnya.