Wonosobo — BUMDes Kusuma Jaya, Desa Ngadikusuman, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, menjadi contoh keberhasilan pengelolaan BUMDes di Wonosobo yang mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan.
Dalam lima tahun perjalanan, lembaga ekonomi desa ini kini mengelola enam unit usaha aktif dan mulai menapaki kemandirian finansial.
Direktur BUMDes Kusuma Jaya, Rozi Cahyadi, menjelaskan bahwa perjalanan lembaga yang ia pimpin tidaklah mudah. Meski berdiri sejak beberapa tahun lalu, aktivitas usaha baru benar-benar berjalan pada 2021.
"Awalnya kami memulai dari satu-dua unit kecil, seperti layanan pembayaran dan depot air minum. Sekarang sudah ada enam unit yang berjalan," ujarnya saat ditemui di lokasi pengembangan peternakan ayam pada Rabu (05/11/2025).
Enam unit usaha BUMDes Kusuma Jaya Ngadikusuman meliputi layanan ritel transaksi keuangan, depot air minum isi ulang, cucian kendaraan, pengelolaan aset desa seperti kolam dan gedung olahraga, serta unit PAM Desa. Terbaru, mereka mengembangkan usaha peternakan ayam Jawa Super (Joper) sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa.
Rozi menegaskan bahwa prioritas utama BUMDes bukan keuntungan pribadi, tetapi keberlanjutan usaha dan manfaat sosial.
"Dari awal kami tidak berpikir soal honor. Kami sepakat amanah ini harus dijalankan dengan tanggung jawab lebih dulu," ujarnya didampingi Direktur Keuangan, Saringat Oka.
Kini, BUMDes Kusuma Jaya mengelola modal sekitar Rp90 juta dari akumulasi tahun-tahun sebelumnya. Tambahan dana sebesar Rp186 juta dari anggaran ketahanan pangan Pemerintah Desa tahun 2025 digunakan untuk memperkuat sektor peternakan ayam dan revitalisasi jaringan PAM Desa senilai Rp70 juta.
Dari sisi pendapatan, BUMDes mencatat tren pertumbuhan positif. Pada 2024, kontribusi terhadap pendapatan asli desa (PADes) mencapai puluhan juta rupiah.
"Kami memang belum besar, tapi sudah mulai mandiri. BUMDes kini hidup dari usaha sendiri," ucap Rozi.
Salah satu unit yang paling berkontribusi adalah PAM Desa BUMDes Kusuma Jaya, dengan lebih dari 200 pelanggan rumah tangga. Pengelolaannya sudah digital menggunakan water meter dan sistem penagihan berbasis aplikasi.
Struktur tarif air dibuat berjenjang, mulai Rp500 per meter kubik untuk pengguna kecil hingga Rp2.000 bagi pelanggan besar. Pola ini menjadi bentuk subsidi silang bagi warga berpendapatan rendah.
"Model tarif ini belum banyak diterapkan di Wonosobo. Kami ingin menjaga keadilan sekaligus keberlanjutan operasional," jelas Rozi.
Inovasi terbaru BUMDes Kusuma Jaya Ngadikusuman adalah budidaya ayam Jawa Super (Joper) dengan target produksi 2.000 ekor. Program ini dijalankan dengan sistem kemitraan inti-plasma, melibatkan masyarakat sebagai mitra langsung produksi.
Selain meningkatkan ketahanan pangan, inisiatif ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan menjaga roda ekonomi tetap berputar di tingkat lokal.
"Prinsip kami sederhana, ekonomi desa harus berputar di desa. Dari desa, untuk desa, dan kembali ke masyarakat desa," tutup Rozi.