Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Dari Magelang, Replika Borobudur Karya Nyoman Melanglang Dunia

I Nyoman Alim Mustapha menunjukan replika Candi Borobudur hasil karya seninya.

Magelang — Sosok I Nyoman Alim Mustapha mungkin belum dikenal luas oleh publik. Namun di balik banyak replika Borobudur yang tersebar hingga luar negeri, karyanya menjadi representasi nyata dari warisan seni pahat tradisional Indonesia.


Selama lebih dari 58 tahun, seniman asal Bali yang menetap di Muntilan ini konsisten memahat batu, memperkenalkan Candi Borobudur kepada dunia dalam berbagai bentuk.


Aktivitas seni pahat replika Borobudur yang ditekuni Nyoman dimulai sejak 1967. Awalnya, ia datang ke Jawa saat berusia 15 tahun hanya untuk melanjutkan sekolah. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Muntilan dan Candi Borobudur, yang kelak menjadi pusat inspirasinya dalam berkarya.


Langkah awal Nyoman dalam memproduksi replika Borobudur diawali dengan sebuah patung kepala Buddha setinggi 25 cm. Karya perdananya ini menarik perhatian seorang kolektor asal Amerika Serikat yang kemudian memesan seribu patung sekaligus.


"Tiga bulan tanpa tidur cukup, siang malam saya kerjakan. Tapi dari situlah awal segalanya,” ujar Nyoman saat ditemui pada Selasa (23/09/2025).


Pesanan besar tersebut menjadi titik tolak karier seninya. Sejak saat itu, ia memperluas eksperimen dengan berbagai material, mulai dari batu candi, marmer, hingga bahan modern seperti fiber dan aluminium.


Bagi Nyoman, seni pahat replika Borobudur bukan hanya soal estetika, tetapi juga proses adaptasi terhadap perkembangan zaman.

Dalam 58 tahun kariernya, replika Borobudur karya Nyoman telah dikirim ke berbagai negara. Beberapa di antaranya adalah Afrika Selatan, Jepang, Belanda, Thailand, serta kawasan Angkor Wat di Kamboja.


Replika tersebut mencakup patung-patung Buddha, miniatur stupa, hingga versi lengkap struktur Candi Borobudur dalam skala lebih kecil.


Untuk membuat satu replika Borobudur secara utuh, Nyoman membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Proses pengerjaan dilakukan dengan menggabungkan bahan alami dan modern agar mampu bertahan di berbagai iklim serta lebih mudah diangkut lintas negara.


Meski reputasi internasional telah diraih, Nyoman menyadari bahwa seni pahat tradisional menghadapi tantangan serius. Kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda membuat minat terhadap seni tradisi menurun. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi keberlangsungan produksi replika Borobudur.


"Teknologi boleh maju, tapi jangan sampai seni tradisi hilang. Semoga karya ini tetap hidup, dan ada anak-anak muda yang mau melanjutkan," ujarnya.


Ia berharap lebih banyak generasi muda terlibat dalam pelestarian replika Borobudur dan seni pahat lainnya, tidak sekadar sebagai keterampilan ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari jati diri budaya.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube