SEMARANG — Dalam misinya mengemaskan Indonesia melalui program Tabungan Emas, PT Pegadaian mencatat capaian luar biasa, yakni total simpanan emas masyarakat Indonesia telah mencapai 14 ton.
Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan PT Pegadaian, Widi Hartanta, menyampaikan bahwa Tabungan Emas tidak hanya menjadi instrumen investasi, tetapi juga solusi untuk meredam maraknya pinjaman online ilegal (pinjol) yang kerap menjerat masyarakat.
"Sebenarnya tujuan Tabungan Emas ini untuk meredam pinjaman online ilegal. Jadi, masyarakat bisa mengakses tabungan emas digital, yang sewaktu-waktu bisa digadaikan jika butuh dana. Biayanya juga jauh lebih murah dibanding bunga pinjaman online," jelas Widi kepada diswayjateng.com di The gade coffee & gold Semarang Pegadaian Kanwil XI Semarang Cabang Poncol, Jumat 12 September 2025.
Dari 5,6 ton hingga 14 ton
Program Tabungan Emas Pegadaian sejatinya sudah diluncurkan sejak 2016–2017. Namun, lonjakan signifikan terjadi setelah pemerintah menunjuk Pegadaian sebagai Bullion Service pada Desember 2024.
Widi menyebut, di awal program, simpanan emas masyarakat baru mencapai 5,6 ton. Kini, pada September 2025, jumlahnya melonjak hampir tiga kali lipat hingga menyentuh 14 ton.
"Ini bukti literasi keuangan dan minat investasi masyarakat semakin baik. Sekarang menabung emas sudah lebih mudah diakses dan lebih dikenal luas," ujarnya.
Pertumbuhan tabungan emas juga ditopang oleh jaringan agen Pegadaian yang tersebar di seluruh Indonesia. Saat ini, lebih dari 20 persen produk cicil emas didistribusikan melalui agen.
Agen tidak hanya menjadi perantara, tetapi juga memperoleh insentif berupa fee referral. Widi menjelaskan, sistem pembagian fee disesuaikan dengan jenis transaksi untuk biaya administrasi, agen mendapatkan 75 persen, Pegadaian 25 persen.
Untuk sewa modal atau bunga cicilan emas, agen memperoleh 20 persen, sementara Pegadaian 80 persen.
"Ini win-win solution. Agen dapat manfaat, masyarakat terlayani, dan Pegadaian tumbuh bersama," tegasnya.
Di tahun 2025, Pegadaian menargetkan penyaluran melalui agen mencapai Rp6,8 triliun. Hingga September, realisasi sudah mendekati Rp6,6 triliun, hanya kurang sekitar Rp200 miliar.
"Pertumbuhan sangat positif karena tren penyaluran terus meningkat sejak 2020. Produk emas sendiri menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam portofolio Pegadaian," terangnya.
Sasar milenial dan gen z
Menyadari dominasi generasi muda dalam pasar investasi, Pegadaian mengembangkan Pegadaian Digital Service. Aplikasi ini memudahkan transaksi, mulai dari pembukaan tabungan, cicil emas, hingga pembayaran bunga secara online.
"Nasabah bisa bayar bunga lewat transfer virtual account tanpa harus datang ke kantor. Lewat aplikasi agen atau Pegadaian Digital Service, semuanya lebih praktis," terang Widi.
Selain itu, Pegadaian juga membangun The Gade Creative Lounge (TGCL) di 46 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Kehadiran TGCL bertujuan meningkatkan literasi keuangan mahasiswa, sekaligus mengenalkan investasi emas sejak dini.
Meski layanan digital sudah tersedia, Widi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah edukasi. Masih banyak nasabah yang belum terbiasa menggunakan aplikasi.
"Produk dan sistemnya sudah siap, tinggal bagaimana masyarakat lebih paham cara menggunakannya. Jadi literasi keuangan tetap kami dorong, terutama bagi milenial dan Gen Z," ujarnya.
Emas sebagai tabungan masa depan
Dengan total tabungan emas nasional yang kini mencapai 14 ton, Pegadaian optimistis produk ini akan semakin diminati. Selain melindungi masyarakat dari jeratan pinjol ilegal, Tabungan Emas juga menjadi instrumen investasi aman, mudah, dan terjangkau.
"Harapan kami, masyarakat bisa menjadikan emas sebagai tabungan masa depan. Tidak hanya untuk kebutuhan darurat, tapi juga untuk kesejahteraan jangka panjang," terangnya.