Jakarta — Festival Dalang Anak (FDA) Nasional 2025 resmi dibuka di halaman Gedung Pewayangan Kautaman, kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Kompetisi dalang anak ini berlangsung hingga 5 November 2025 mendatang untuk menentukan dalang terbaik generasi muda.
FDA Nasional 2025 ini merupakan ajang tahunan, wadah bagi para dalang cilik dari seluruh provinsi di Indonesia untuk menunjukkan bakat, kreativitas, dan kecintaan mereka terhadap seni pedalangan.
Secara simbolik pembukaan dilakukan dengan penyerahan wayang gunungan dari Direktur Warisan Budaya, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, I Made Dharma Suteja kepada dalang cilik asal Jawa Timur, Dhemas Mahadewa Adiputra Mickey Liwensky Sujonxo.
Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, Tumiyono, menjelaskan bahwa festival ini telah berlangsung selama 18 tahun dan berhasil mencetak lebih dari 680 dalang muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, FDA merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan syiar budaya di tengah arus modernisasi.
“Syiar budaya ini tidak boleh putus, karena pembentukan bangsa dimulai dari perkembangan budayanya. Dari wayang, kita bisa menanamkan nilai-nilai luhur lintas generasi,” ujar Tumiyono kepada diswayjateng.com, Senin 3 November 2025 sore.
Ia menambahkan, antusiasme generasi muda terhadap dunia pedalangan terus meningkat. Hal itu terlihat dari banyaknya peserta festival, serta bertambahnya jumlah jurusan pedalangan di berbagai perguruan tinggi seperti ISI Solo, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, dan beberapa universitas di luar Jawa.
“Dulu kita khawatir wayang akan ditinggalkan, tapi sekarang ruang pendalangan di kampus sudah tidak cukup menampung peminatnya. Ini bukti bahwa minat generasi muda terhadap budaya bangsa justru meningkat,” imbuhnya.
Tumiyono juga menyoroti dukungan pemerintah terhadap dunia kebudayaan yang semakin besar. Ia menilai pembentukan kementerian khusus kebudayaan menjadi bukti nyata keberpihakan negara terhadap pelestarian seni dan tradisi.
Sementara itu, Ketua Pepadi Jawa Tengah Untung Wiyono menyatakan optimistis provinsinya mampu meraih juara umum.
“Kami sudah menyeleksi ketat dari tingkat korwil hingga provinsi, dan yang berangkat ke nasional adalah yang terbaik,” ujarnya.
Lima dalang cilik terbaik dari Jawa Tengah akan mewakili provinsi ini di tingkat nasional. Mereka adalah Danendra Dananjaya Djuanda (Kategori A) dari Kota Semarang, Kenzie Lintang Trenggono (Kategori A) dari Kabupaten Semarang, Respati Listyatmoko (Kategori B) dari Kabupaten Wonogiri, Syafathur Dwi Aprian (Kategori B) dari Kabupaten Cilacap, dan Muhammad Amin Al Basri (Kategori B) dari Kabupaten Rembang.
Adapun pembagian usia dalam festival ini terdiri atas dua kategori: Kategori A untuk peserta berusia 8 hingga sebelum 12 tahun, dan Kategori B untuk usia 12 hingga sebelum 16 tahun.
Untung menuturkan, dukungan masyarakat dan pemerintah terhadap regenerasi dalang di Jawa Tengah sangat besar.
“Di setiap daerah hampir ada sanggar dan sekolah pedalangan. Dukungan dari masyarakat, sanggar, hingga pemerintah kabupaten dan kota luar biasa,” katanya.
Ia menambahkan, Pepadi terus berupaya melakukan sosialisasi dan lomba dari tingkat sekolah dasar hingga nasional agar anak-anak mengenal dunia pedalangan lebih dekat.
“Digitalisasi boleh saja dilakukan, tapi visualisasi wayang tetap harus dijaga keasliannya. Nilai-nilai arif lokal dalam wayang itulah yang membentuk karakter bangsa,” tuturnya. (Sul)