Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Ki Purbo Asmoro: Dalang Cilik Harus Tampilkan Ciri Khas dan Gaya Etnik Daerah di FDA Nasional 2025

Dalang legendaris asal Solo Ki Purbo Asmoro berpesan untuk menampilkan siri khas daerah pada Festival Dalang Anak Nasional di Jakart. (Dok Youtube FDA 2025)

Jakarta — Dalang legendaris asal Solo, Ki Purbo Asmoro, memberikan apresiasi tinggi kepada para peserta Festival Dalang Anak Nasional 2025 yang menampilkan beragam gaya etnik dari berbagai daerah di Indonesia.


Melalui sambungan Zoom seusai penampilan Syafathur Dwi Aprian (14) yang akrab disapa Aprian asal Banyumas, Ki Purbo menyampaikan rasa bangga atas keberagaman yang ditunjukkan oleh para dalang cilik.


“Selamat untuk adik-adik semua yang mengikuti Festival Nasional ini. Saya bangga karena gaya lokal dan etnik masing-masing daerah kini benar-benar ditampilkan. Dulu saya berpesan agar kearifan lokal diangkat, dan sekarang itu menjadi kenyataan,” ujar Ki Purbo, Selasa 4 November 2025.


Menurut maestro pedalangan yang dikenal luas hingga mancanegara itu, gaya Banyumasan memiliki ciri khas tersendiri yang perlu terus dijaga.


Ia menilai penampilan Aprian yang membawakan lakon dengan logat dan cengkok Banyumasan berhasil memukau penonton.


“Gaya Banyumas itu sigrak, gumyak, gayeng, semarak, semangat dan itu ciri khas yang harus dipertahankan. Cengkoknya bagus dan terbukti dia sudah terbiasa dengan gamelan. Tidak terpeleset sama sekali,” tutur Ki Purbo.


Ia menambahkan, seorang dalang harus menguasai berbagai teknik pakeliran, mulai dari garap lakon, catur, sabet, hingga iringan.


Menurutnya, kemajuan teknologi saat ini justru menjadi peluang bagi generasi muda untuk belajar lebih dalam tentang dunia pedalangan.

“Sekarang zaman digital. Belajar wayang lebih mudah, banyak referensi buku dan teknologi seperti AI yang bisa dimanfaatkan. Generasi sekarang harus lebih hebat dari sebelumnya. Taruno ngumpuli Bopo yang artinya generasi muda harus melampaui para pendahulunya,” tegasnya.


Selain itu, Ki Purbo juga menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi. 


Ia mengingatkan bahwa wayang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece Warisan Budaya Dunia, sehingga tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya menjadi kewajiban bersama.


“Perubahan zaman ada yang baik, ada yang tidak. Maka kita harus tetap menghormati budaya kita sendiri. Wayang sudah diakui dunia, jangan sampai kita abai terhadap warisan itu,” ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Ki Purbo juga memberikan tips kepada para dalang cilik tentang cara menggarap pakeliran agar menarik dan bermakna. Ia menilai kemampuan para peserta festival sudah sangat baik dalam memadatkan cerita dan menguatkan substansi lakon.


“Cara memadatkan cerita sudah bagus, substansi kecekel, dan tampilannya kental. Suluk, sabet, catur, serta iringannya nyambung itu luar biasa,” kata dalang senior tersebut.


Ki Purbo berharap regenerasi dunia pedalangan terus berjalan dengan baik. Ia menilai daerah seperti Banyumas, Cilacap, hingga Banten memiliki potensi besar dalam mencetak dalang muda berbakat. Namun, ia menekankan pentingnya juga mencetak penonton wayang masa depan.


“Jangan hanya mencetak dalangnya, tapi juga penontonnya. Kalau tidak ada penonton, siapa yang akan nanggap? Mari siapkan calon-calon penonton baru agar wayang terus hidup di masa depan,” pungkasnya.