Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Jam Tangan Rp11 Miliar Ahmad Sahroni Dikembalikan Usai Viral, Ibu Pelaku: Bukan Hak Kita

Di antara semua kisah kekacauan akibat penjarahan rumah Ahmad Sahroni, terdapat satu cerita yang paling menarik perhatian: momen ketika seorang bocah SMP terekam kamera sedang menunjukkan "harta karun", sebuah jam tangan mewah yang ternyata bernilai Rp 11 miliar!


Video tersebut langsung viral, dan bocah itu tiba-tiba menjadi "simbol" dari aksi penjarahan tersebut. Namun, apa sebenarnya cerita di balik momen yang menjadi viral itu?


Andriyani Juwita, ibu dari bocah tersebut, akhirnya berbicara dan menceritakan kronologi yang membuat keluarganya panik dan tidak bisa tidur semalaman.


Berawal dari Menonton Keramaian Setelah Bermain Sepak Bola

Andriyani, yang rumahnya hanya selemparan batu dari kediaman Sahroni di Tanjung Priok, sebenarnya telah berusaha menjauhkan anaknya dari lokasi kerusuhan.


Sejak pagi hari Sabtu, ia sudah menerima pesan berantai dari RT mengenai rencana demo besar di rumah Sahroni.


"Kita warga setempat ya saling menjaga. Maksudnya saling mengingatkan untuk tidak pergi ke mana-mana, terutama anak-anak," ujarnya dalam acara Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (2/9/2025).


Namun, namanya juga anak-anak. Si anak yang baru saja selesai bermain bola, tentu saja merasa penasaran dengan keramaian yang sangat besar itu. Bersama teman-temannya, ia pun ikut menonton.


"Ternyata mereka bersama teman-temannya, teman-teman bermain bola, sedang menonton (penjarahan rumah Sahroni)," cerita Andriyani.


Plot Twist: Jam Tangan Rp 11 Miliar

Ketika situasi semakin memanas dan penjarahan dimulai, Andriyani menceritakan kembali pengalaman anaknya. Menurut pengakuan sang anak, suasana saat itu benar-benar kacau. Orang-orang berebut masuk dan keluar membawa barang-barang hasil jarahan.


"Pada saat akhirnya terjadi penjarahan, banyak sekali massa. Dan satu orang itu tidak hanya mengambil satu barang," ucapnya, mengutip Yoursay.id.


Nah, di tengah kekacauan itulah "keajaiban" terjadi. Seorang penjarah yang membawa banyak barang, tanpa sengaja menjatuhkan beberapa item, termasuk sebuah jam tangan dan tasbih.

"Banyak yang ngambil, jam itu jatuh. Dan dia (anaknya) hanya mengambil itu dapet tasbih dan jam," jelas Andriyani.


Ia menirukan kembali cerita anaknya, "Jadi dia itu bun bawa barang banyak banget, jatuh-jatuh saya ambil (termasuk jam tangan mewah)."


Momen saat anaknya memamerkan "temuan"-nya itu kebetulan terekam oleh salah satu massa yang sedang live di TikTok. Dan dari sanalah semuanya meledak.


Begitu tahu jam tangan yang dibawa pulang anaknya viral dan harganya disebut-sebut mencapai Rp 11 miliar, Andriyani dan keluarganya langsung panik luar biasa.


"Dinotice sama orang karena sampai viral, ternyata harganya Rp11 miliar itu, viral," ujarnya.


Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil langkah yang benar. "Saya lapor RT, RT lapor RW, karena saya ngerasa itu bukan punya itu, bukan hak kita," katanya tegas.


Proses pengembalian pun dilakukan. Didampingi oleh seorang anggota DPRD DKI, jam tangan mewah itu akhirnya berhasil dikembalikan ke pihak yang berwenang. Tapi, malam itu jadi malam yang tak terlupakan bagi Andriyani.


"1 x 24 Jam pak jam tangan itu ada di rumah kita. Kita sampai gak bisa tidur karena itu punya hak orang," ungkapnya.


Anaknya Kena Doxing, Tapi Ternyata Salah Data

Di balik semua itu, ada dampak psikologis yang harus ditanggung. Foto dan video anaknya viral di mana-mana, lengkap dengan data pribadi.


"Kami sempat down juga sebagai orang tua ya, foto anak saya disebar luaskan dengan data pribadi," keluhnya.


Untungnya, ada sedikit kelegaan. Ternyata data pribadi yang tersebar itu bukanlah milik anaknya, melainkan milik teman si anak yang merekam video tersebut.


Kisah ini jadi cerminan kompleks dari sebuah kerusuhan. Di satu sisi, ada amarah massa. Di sisi lain, ada warga biasa yang tanpa sengaja terseret ke dalam pusaran kekacauan, dan harus berjuang dengan kepanikan dan hati nuraninya sendiri.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube