SEMARANG — Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena, mendorong para pelaku seni dan budaya di Kota Semarang untuk lebih aktif berkolaborasi dalam memajukan kebudayaan.
Menurutnya, kolaborasi lintas bidang akan menjadi pemantik kemajuan tidak hanya bagi seniman, tetapi juga sektor lain seperti pariwisata, ekonomi kreatif, hingga UMKM.
Hal tersebut disampaikan Samuel usai menjadi pembicara pada Penta K Labs 5 di Semarang Creative Hub. Ia menilai, selama ini pelaku budaya di Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, masih berjalan sendiri-sendiri tanpa ada integrasi yang kuat.
"Orang fashion jalan sendiri, bidang kesenian lainnya jalan sendiri, orang-orang kebudayaan dengan paparan-paparannya berjalan sendiri. Ini yang perlu dikolaborasikan," ujar Samuel, Minggu 24 Agustus 2025
Samuel mencontohkan, minimnya kolaborasi terlihat dari pengunjung yang hadir dalam sebuah event seni biasanya hanya berasal dari komunitasnya sendiri. Kondisi ini, menurutnya, membuat perkembangan kebudayaan di Semarang tidak merata dan sulit menjangkau masyarakat luas.
"Jadi kapan ini dikeluarkan ke lingkungan yang lain? Kan ini penting. Paparan, pemikiran, gagasan kalau bisa disebarkan ke komunitas lain tentu dapat saling menginspirasi," jelasnya.
Samuel menekankan, apabila gagasan seni, fashion, hingga kebudayaan bisa dikolaborasikan, maka akan tercipta sinergi yang mampu mengangkat nama Kota Semarang sebagai salah satu pusat budaya di Indonesia.
Lebih lanjut, Samuel berpendapat bahwa budaya dan ekonomi kreatif dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Kota Semarang. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah sekaligus kota hub, Semarang memiliki potensi besar untuk menampilkan karya-karya kreatif dari berbagai daerah.
"Ini akan bisa menghidupi Kota Semarang. Kebudayaan di Jawa Tengah bisa hidup di Semarang, asalkan ada kepedulian kita bersama untuk mau berkomunikasi, berkolaborasi, berkoordinasi, dan berkonsolidasi," tandasnya.
Samuel juga mendorong pemerintah daerah dan komunitas budaya agar lebih serius menyiapkan wadah kolaborasi. Menurutnya, dengan adanya ruang bersama, maka ide-ide kreatif seniman dapat terhubung dengan dunia usaha, sektor pariwisata, hingga pelaku UMKM.
Ia optimistis, bila kebudayaan mampu dikemas dalam event besar yang rutin, maka Semarang tidak hanya dikenal sebagai kota perdagangan dan jasa, tetapi juga sebagai kota budaya dan ekonomi kreatif.