Jakarta — Dengan logat khas ngapak Banyumas yang kental, suara Syafathur Dwi Aprian terdengar lantang di panggung Festival Dalang Anak Nasional 2025.
Di halaman Gedung Pewatangan Kautama, Jakarta, remaja berusia 14 tahun itu memukau penonton dengan lakon Bima Bungkus, yakni kisah lahirnya Raden Bima atau Werkudara yang dibalut dalam irama gamelan dan suara sinden yang syahdu.
Aprian, begitu ia disapa, memainkan wayang kulit Gajah Sena yang bertarung melawan Bratasena dengan sabetan yang mantap dan ekspresif.
Setiap gerakan tangannya menunjukkan latihan yang tekun, meski ia hanya butuh waktu seminggu untuk menyiapkan lakon tersebut.
“Paling satu minggu latihan. Alhamdulillah lancar, cuma agak susah di olah vokal waktu suluk yang nadanya tinggi,” ujarnya kepada Diswayjateng.com, Selasa 4 November 2025.
Siswa kelas 9 SMP Negeri 1 Adipala, Kabupaten Cilacap, ini bukan wajah baru di dunia pedalangan. Sebelumnya, Aprian telah menyabet juara pertama pada seleksi Festival Dalang Anak tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Keberhasilannya itu mengantarkan dia mewakili Jawa Tengah ke tingkat nasional bersama empat dalang cilik lainnya.
Ciri khas Banyumasan begitu lekat dalam setiap pementasan Aprian. Dari dialek ngapak, sabetan wayang, hingga karakter khas seperti Bawor, Jaewana, Sontoloyo, Sarkawi, dan Kijing Miring.
"Tokoh-tokoh itu cuma ada di Banyumas. Tapi kalau yang lain, seperti dari Solo atau Jogja semua hampir sama cuma beda gaya dan dialeknya. Tapi kalau gendangnya sih sama," ujar Aprian yang sangat mengidolakan dalang Nasional Ki Purbo Asmoro.
Dengan percaya diri, Aprian tampil apa adanya, membawa gaya asli tanah kelahirannya. Ia pun berharap bisa masuk menjadi juara di ajang nasional ini.
“Insyaallah bisa,” ucapnya dengan semangat.
Kesuksesan Aprian tak lepas dari bimbingan dua pelatihnya, yakni Mbah Sungging Suwarto dan Sigit Aji Sabdopriyono.
Sungging Suwato, yang kini berusia 71 tahun, menjadi sosok penting dalam melestarikan gaya pedalangan Banyumasan yang murni, tanpa campuran gaya dari daerah lain.
“Cilacap selalu melakukan regenerasi dalang cilik, dari kelas 1 SD sampai SMP. Mereka disiapkan untuk menggantikan kami kelak,” tutur Mbah Suwarto dengan nada bangga.
“Saya sudah 71 tahun, tapi semangat anak-anak ini luar biasa. Mereka masih mau belajar mendalang dengan gaya Banyumasan yang tidak tercampuri gaya lain," tambahnya.
Suwarto menjelaskan bahwa gaya Banyumasan memiliki kekhasan tersendiri. “Iringannya, dialeknya, suluknya, semua murni. Suluk di Banyumas itu banyak pakai jineman (lagu yang diiringu beberapa instrumen gamelan) entah itu odo-odo, sendon, atau patetan. Jadi sulit dipelajari oleh dalang dari daerah lain,” ujarnya.
Dalam setiap sesi latihan, para murid tidak langsung mendalang. Mereka terlebih dahulu belajar nambuh (menabuh gamelan) bersama-sama.
“Saya ingin semua dalang bisa nambuh. Jadi olah vokalnya nanti tidak terlalu kesulitan,” imbuhnya.
Semangat Melestarikan Budaya Daerah
Lewat tangan-tangan muda seperti Aprian, Sungging Suwarto percaya kesenian wayang kulit Banyumasan akan tetap hidup.
“Saya sangat bangga pada anak-anak seperti Aprian ini. Kemarin dia juara satu di Jawa Tengah, sekarang tampil di tingkat nasional. Mudah-mudahan bisa membawa pulang juara,” katanya.(sul)