Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

MBG di Sragen Amburadul, Ketua Komisi IV Soroti Dinas yang Tidak Punya Data Penerima Program

Ketua Komisi IV DPRD Sragen
Sugiyamto saat di temui di Kantor DPRD Sragen.

SRAGEN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di Kabupaten Sragen menuai kritik tajam. Distribusi program ini dinilai amburadul dan tidak terkoordinasi dengan baik.


Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat antara Komisi IV DPRD Sragen dengan perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) serta Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen.


Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto, tak habis pikir dengan kondisi di lapangan. Menurutnya, pendataan dan distribusi program MBG kacau balau. "Amburadul karena dari dinas sendiri tidak tahu," ungkap Sugiyamto dengan nada geram.


Dia menyoroti minimnya koordinasi antara pihak pelaksana dengan instansi terkait. Bahkan, dia menyebut bahwa DKK dan Disdik sama sekali tidak mengetahui siapa saja pihak yang mengelola dapur suplai makanan untuk program tersebut. "Data Dapur SPPG aja nggak tahu," cetusnya.


Kekacauan ini juga dirasakan hingga tingkat wilayah. Koordinator wilayah bahkan hanya mengetahui sekolah mana saja yang mendapatkan program MBG setelah melihat unggahan status WhatsApp dari para kepala sekolah.


"Semestinya ada koordinasi dulu dengan dinas pendidikan, titik mana yang menerima. Biar dinas tahu mana sekolah yang sudah dapat, mana yang belum," jelas Sugiyamto.


Ironisnya, beberapa sekolah yang sudah menerima program ini tidak melapor kepada dinas pendidikan, sehingga data menjadi tidak akurat. Sugiyamto menyayangkan sikap pihak pelaksana yang tidak melakukan "kulonuwun" (permisi,red) secara formal kepada Disdik, menyebabkan pendataan menjadi rumit dan tidak terperinci. "Istilahnya orang Jawa ya mbok kulonuwun biar terdata secara detail," ujarnya.

Selain masalah data, Komisi IV juga mencium gelagat tidak beres dalam sistem distribusi. Sugiyamto menduga ada aroma bisnis di balik program ini. "Ini kan jadi bisnis pengelola dapur agar dapat sekolah yang gampang dan radiusnya dekat, jadi untungnya lumayan," tudingnya.


Kondisi ini berimbas pada ketidakmerataan sasaran. Sekolah-sekolah di pelosok, seperti di Desa Gilirejo, justru belum mendapatkan program MBG. Padahal, menurut Sugiyamto, seharusnya sekolah-sekolah di wilayah terpencil menjadi prioritas utama.


"Harusnya secara materi sasaran yang dikasih harusnya yang sekolah di pelosok dulu," tegasnya.


Kekacauan ini juga menciptakan masalah baru di masyarakat. Sugiyamto mengungkapkan, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti keracunan makanan, pihak yang pertama kali dipanggil adalah dinas pendidikan dan korwil, padahal mereka tidak memiliki data.


Akibatnya, orang tua murid menuding sekolah dan guru yang harus bertanggung jawab, meskipun dari instansi pendidikan sendiri tidak memiliki data program tersebut.


Sugiyamto menegaskan, "Masalahnya, tidak kulonuwun ini kalau ada masalah, misalnya keracunan, yang dipanggil dinas pendidikan, korwil, dan sebagainya."


Rapat tersebut berakhir tanpa solusi konkret. Komisi IV berharap ada perbaikan sistem pendataan dan koordinasi agar program MBG di Sragen bisa berjalan adil dan transparan, tanpa adanya dugaan kepentingan bisnis di dalamnya.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube