SURAKARTA — Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah 2025 menjadi sorotan publik setelah mencatat prestasi membanggakan dengan pemecahan Rekor MURI Penulisan Geguritan oleh Pelajar Terbanyak.
Sebanyak 1.120 siswa SD dan SMP se-Jawa Tengah menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) secara serentak dalam gelaran yang diadakan di Kota Surakarta.
Acara tahunan yang digagas Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah ini merupakan bagian dari upaya pelindungan dan pelestarian bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, melalui kegiatan pendidikan dan kreativitas pelajar.
Gubernur Jawa Tengah melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sadimin menyampaikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah 2025. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama antar lembaga dalam merawat bahasa dan budaya daerah.
"Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sangat mengapresiasi penyelenggaraan FTBI ini. Melalui ajang seperti ini, kemahiran siswa dalam berbahasa Jawa dan kreativitas mereka dalam bersastra Jawa semakin berkembang," ujar Sadimin.
Sadimin menekankan bahwa arah program revitalisasi bahasa Jawa harus menyentuh generasi muda dan milenial. Ia mendorong agar sosialisasi dilakukan dengan cara menarik agar pelajar lebih aktif menggunakan bahasa Jawa, terutama di lingkungan keluarga.
Momen bersejarah terjadi ketika Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) secara resmi mengakui Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah 2025 sebagai pemecahan rekor untuk kategori Penulisan Geguritan oleh Pelajar Terbanyak.
Kegiatan ini tak hanya menjadi lomba, tetapi juga gerakan literasi budaya yang melibatkan ribuan siswa dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati menjelaskan, bahwa festival ini adalah puncak dari program Revitalisasi Bahasa Daerah yang telah dilaksanakan sejak 2021.
"Festival Tunas Bahasa Ibu merupakan puncak perayaan pelindungan dan pelestarian bahasa daerah. Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kembali kecintaan siswa terhadap bahasa Jawa yang sarat nilai dan identitas budaya," tutur Laily.
Program revitalisasi tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari rapat pakar, pelatihan guru utama bahasa Jawa, hingga penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu di tingkat kabupaten/kota sebelum mencapai tingkat provinsi.
Dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah 2025, peserta berkompetisi dalam tujuh mata lomba: membaca dan menulis aksara Jawa, mendongeng (ndongeng), berpidato (sesorah), menulis cerkak, membaca geguritan (maca geguritan), nembang macapat, dan komedi tunggal (ndhagel ijen).
Tercatat 980 siswa dari jenjang SD dan SMP berpartisipasi sebagai pemenang dari FTBI kabupaten/kota, mewakili 35 daerah di Jawa Tengah.
Setiap cabang lomba menjadi wadah bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan berbahasa Jawa sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya merawat bahasa daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.
Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah 2025 menegaskan komitmen Balai Bahasa dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap pelindungan bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional.
"Generasi penerus bangsa harus merasa bangga menggunakan bahasa daerah. Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin nilai-nilai luhur dan jatidiri budaya," kata Dwi Laily.
Melalui keberhasilan mencatat Rekor MURI Penulisan Geguritan oleh Pelajar Terbanyak, Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah 2025 diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menggalakkan kegiatan serupa demi keberlanjutan bahasa dan budaya Nusantara.