Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Wayang Kulit Kliwonan Semarang Siap Tayang Lagi Usai Perubahan Anggaran 2025

Pertunjukan Pertunjunkan wayang kulit jumt kliwon akan diselenggarakan kembali setelah revisi APBD 2025

SEMARANG — Wayang Kulit Kliwonan di Kota Semarang Bakal Tayang Lagi Setelah Perubahan Anggaran, Disbudpar: Kami Tetap Komitmen Lestarikan Budaya


Pertunjukan tradisional Wayang Kulit Jumat Kliwon yang biasa digelar rutin di Kota Semarang sementara waktu dihentikan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Semarang menyatakan penghentian ini disebabkan oleh efisiensi anggaran daerah tahun 2025, namun menjanjikan pertunjukan tersebut akan kembali digelar setelah perubahan anggaran di pertengahan tahun.


Tradisi Wayang Kulit Jumat Kliwon merupakan salah satu ikon budaya Kota Semarang yang biasanya diadakan 11 kali dalam setahun, mengikuti kalender pasaran Jawa. Namun hingga pertengahan 2025, baru empat kali pertunjukan yang sempat digelar sebelum dihentikan sementara.


Kepala Disbudpar Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho, menjelaskan bahwa keputusan ini bukan bentuk pengabaian terhadap pelestarian budaya, melainkan dampak dari kebijakan efisiensi anggaran nasional yang juga dirasakan oleh semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD).


"Efisiensi anggaran menyentuh hampir semua kegiatan, termasuk event rutin seperti wayangan kliwonan dan legenda Mahakarya Gua Kreo. Kami tetap berkomitmen agar bisa kembali digelar setelah perubahan anggaran," ujarnya ditemui di gedung DPRD Kota Semarang, Rabu 18 Juni 2025.

Wing menambahkan, pihaknya tengah berkomunikasi intensif dengan pemerintah kota dan DPRD guna mengajukan kembali alokasi anggaran untuk kegiatan budaya dalam APBD perubahan. Minimal, satu hingga dua kali pertunjukan Wayang Kulit Kliwonan bisa digelar kembali pada sisa tahun 2025.


Tak hanya wayangan, sejumlah agenda budaya lainnya seperti peringatan 1 Sura, Kirab Ageng Ki Ageng Pandanaran, hingga festival seni lokal juga terkena imbas pemangkasan dana. Meski begitu, Disbudpar masih berupaya menjalankan beberapa event melalui kerja sama dengan komunitas, sponsor CSR, serta asosiasi seni dan budaya.


"Acara seperti Dugderan dan Semarang Night Carnival tetap bisa berlangsung berkat dukungan luar. Ini bukti kolaborasi penting dalam menjaga warisan budaya," tambah Wing.


Meski enggan merinci besaran pemangkasan, Wing menegaskan bahwa kondisi ini merata dan merupakan kebijakan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan dan Kemendagri. 


Dia juga meyakini bahwa perhatian Wali Kota terhadap sektor pariwisata dan budaya sangat tinggi, dan optimistis kegiatan budaya akan kembali berjalan normal saat kondisi fiskal membaik.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube