SALATIGA — Tragis, kasus Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) sampai menyebabkan korban mengalami gangguan jiwa. Bahkan, 2 Rumah Sakit Jiwa (RSJ) ei Jawa Tengah telah didatangi guna menjalankan pengobatan. Namun sampai saat ini belum menunjukkan perkembangan yang mengembirakan.
Justru saat berada di dalam rumah terkadang membahayakan pribadi dan orang lain, lantaran mengancam akan melukai orang lain dengan senjata tajam (sajam).
Hal ini dialami KS (58), warga Salatiga. Dari keterangan adik kandungnya, DH (50), kakaknya mengalami gangguan mental saat mengetahui Koperasi BLN mengalami koleps untuk pertama kali pada bukan Maret 2025.
"Awalnya, kakak saya mendapatkan informasi jika pada bulan Maret 2025 itu BLN sudah tidak mentransfer "kluntingan" (pembagian untung bagi anggota Koperasi setiap bulannya) ke anggota," ungkap DH yang bersedia mengisahkan kondisi kakak seorang 'single mom' berstatus ibu rumah tangga biasa.
KS adalah janda yang ditinggal suami meninggal dunia. Suami KS dulunya adalah pensiunan Taspen.
Dari peninggalan suaminya (berupa uang pensiunan), KS memberanikan diri menanamkan uang ke Koperasi BLN setelah mengagunkan SK suaminya selama lima tahun ke Bank sebanyak Rp50 jutaan.
"Kakak saya bergabung dengan Koperasi BLN kurang lebih 1 tahun terakhir. Dan setiap dapat kluntingan, selalu dibujuk marketingnya Ketua Umum Koperasi BLN Nicholas Nyoto Prasetho (Nicho) untuk 'digulung' lagi alias dimasukin kembali sebagai modal tambahan," ungkap DH.
Awal mula KS bergabung Koperasi BLN, lantaran bujuk rayu marketing bernama JIC dan BG cabang Salatiga.
Berjalannya waktu, tibalah kondisi Koperasi BLN kolep tidak mampu membayar keuntungan puluhan ribu anggotanya.
"Waktu 'bledos' BLN yang pertama, kakak saya masuk RSJ di Semarang karena frustasi," terangnya.
Saat itu, lanjut DH, kakanya KS, seperti merasakan ada yang tidak beres dari Koperasi BLN bahkan sempat kesurupan dan menyebut-nyebut nama Nicho serta JIC.
Karena kondisi keuangan tak menentu, Kristin pun terlilit hutang. Bahkan, ia pribadi tidak memiliki rumah untuk bernaung. Dalam kondisi serba sulit, KS dirawat adiknya, Diah.
Setali tiga uang, DH pun ternyata termakan bujuk rayu marketing Nicho.
"Saya juga anggota Koperasi BLN, saya masuki uang sebanyak Rp40 jutaan. Jika ditotal dengan kluntingan yang telah dimasukkan lagi ke BLN itu mencapai Rp60an juta. Tapi, saya memiliki hutang di Bank Rp76 juta demi bisa menabur di BLN," akunya.
DH yang sempat bergabung saat aksi penyegelan aset BLN di Kedaton Salon Tegal Rejo, Salatiga akhir pekan lalu, saat ini lebih mengkhawatirkan kondisi sangat kakak.
"Kakak saya kalau di rumah suka kumat, aku trauma. Ini baru pulang dari RSJ Magelang 14 hari," paparnya.
Karena kondisi KS semakin mengkhawatirkan, DH dan keluarga besarnya memutuskan membawa sang kakak ke sebuah Pondok Pesantren agar bisa di ruqyah guna menyehatkan jiwa raganya.
"Ini saya sedang antar kakak saya ke Wonosobo untuk dipondokkan agar bisa di ruqyah," imbuhnya.
Diah berharap besar, uang ratusan juta uang milik dia dan sang kakak di Koperasi BLN dapat kembali sehingga pelan-pelan dapat kembali hidup normal.