SEMARANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menunjukkan komitmen nyata dalam membangun kota yang adil, setara, dan ramah untuk seluruh lapisan masyarakat melalui program unggulan bertajuk Semarang Inklusif 2025.
Dipelopori oleh Wali Kota Agustina dan Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin, program Semarang inklusf 2025 ini hadir untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam pembangunan.
Semarang Inklusif 2025 merupakan satu dari lima prioritas utama dalam 100 Hari Kerja Wali Kota, bersama dengan program Semarang Bersih, Pendidikan Berkeadilan, Infrastruktur Terawat, dan Semarang Sehat.
Meski masuk dalam rencana jangka pendek, program ini sejatinya menjadi bagian dari visi jangka panjang Kota Semarang sebagai kota inklusif dan berkeadilan sosial.
"Membicarakan program Rumah Inklusi ini sangat asyik, karena kita sedang menyiapkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pelayanan—kita ingin menjadikannya sebagai Rumah Inspirasi. Jika kita berhasil membangunnya dengan baik, maka ini akan menjadi sistem pengelolaan dan perawatan disabilitas yang terintegrasi pertama di Indonesia," ungkap Agustina belum lama ini.
Menurutnya, ada seni dalam mengkoordinasikan berbagai pihak meliputi pemerintah, masyarakat, penyandang disabilitas, relawan, dan stakeholder lainnya.
Sebagai langkah awal implementasi, Pemkot membangun Rumah Inspirasi di lima kecamatan seperti Mijen, Tembalang, Semarang Barat, Semarang Tengah, dan Genuk.
Rumah ini berfungsi sebagai pusat layanan ramah disabilitas dan kelompok rentan, menyediakan sembilan layanan dasar pendidikan, kesehatan, sosial, ketenagakerjaan, dukungan UMKM, kesehatan mental, pertanian, permukiman, serta akses bantuan sosial lainnya.
Proses pendataan penyandang disabilitas sedang dilakukan secara menyeluruh dengan sistem by name by address, agar setiap warga yang membutuhkan mendapatkan layanan yang tepat sasaran.
Tidak hanya itu, Pemkot juga melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam proses ini, seperti petugas kecamatan, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), relawan, penyandang disabilitas sendiri, dan para pemangku kepentingan.
Rumah Inspirasi juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah dan komunitas dalam membangun ekosistem layanan yang inklusif, menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Semarang Inklusif 2025 dengan Rumah Inspirasinya bukan sekadar program sosial, melainkan bagian dari perwujudan visi besar kota menuju masyarakat berkeadilan sosial, lestari, dan inklusif. Program ini menjadi pondasi awal untuk pembangunan lima tahun ke depan.
"Kita tidak hanya bicara soal bangunan fisik, tetapi tentang membangun sistem perlindungan dan pemberdayaan yang kuat dan berkelanjutan. Karena itu, kita juga sedang siapkan apa yang kami sebut sebagai Protect System untuk menjawab kebutuhan ril kawan-kawan disabilitas," terang Agustina.
Untuk mendukung terciptanya ruang yang setara bagi semua, Pemkot Semarang juga telah membebaskan 523 ruang publik di seluruh kecamatan dari tarif retribusi. Artinya, masyarakat kini bisa menggunakan berbagai fasilitas milik kota secara gratis untuk kegiatan non-komersial, termasuk di antaranya aula pertemuan di rumah susun, lapangan futsal, taman-taman kota, hingga halaman Balaikota.
Pembebasan ini memberikan ruang partisipasi yang lebih besar bagi komunitas, organisasi sosial, dan warga umum dalam menghidupkan kegiatan sosial, budaya, dan edukatif tanpa beban biaya.