Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Pengusaha Tionghoa Diajak Jadi Motor Ekonomi Baru Jawa Tengah

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat menghadiri pelantikan pengurus Persatuan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) periode 2025–2030 di ballroom PO Hotel Semarang pada Sabtu malam
18 Oktober 2025. Foto : dok

SEMARANG — Suasana hangat terasa di ballroom PO Hotel Semarang pada Sabtu malam, 18 Oktober 2025.


Para pengusaha Tionghoa dari berbagai daerah di Jawa Tengah berkumpul untuk satu tujuan: mengukuhkan kepengurusan baru Persatuan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) periode 2025–2030.


Namun malam itu bukan sekadar seremoni pelantikan. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi hadir membawa pesan besar: Perpit harus menjadi bagian dari babak baru ekonomi Jawa Tengah.


“Jawa Tengah sedang jadi episentrum pembangunan nasional. Ini momentum yang tidak boleh disia-siakan,” tegasnya di hadapan para pengusaha.


“Saya yakin Perpit mampu melahirkan pusat-pusat ekonomi baru, bukan hanya di Semarang, tapi di seluruh Jawa Tengah.”


Gubernur berbicara bukan tanpa alasan. Hingga kuartal III 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah sudah menembus Rp57 triliun. Menariknya, 65 persen di antaranya berasal dari penanaman modal asing.


Artinya, potensi besar masih terbuka bagi pelaku usaha lokal untuk mengambil peran lebih dominan.


Luthfi pun menjanjikan iklim yang kondusif: tenaga kerja kompetitif, perizinan yang dipangkas jalurnya, serta jaminan keamanan tanpa praktik premanisme.

“Yang penting, banyaklah bangun industri padat karya. Biar anak-anak kita bisa terserap kerja,” ujarnya menutup sambutan.


Dukungan itu disambut hangat oleh para pengusaha. Salah satunya datang dari Iwan Santoso, tokoh Perpit Jawa Tengah. Ia menyebut Perpit bukan sekadar wadah bisnis, tapi jembatan antara dunia usaha dan pemerintah — bahkan hingga lintas negara.


“Perpit ingin menghubungkan peluang antara Indonesia dan Tiongkok. Dengan kepemimpinan baru, kami berharap kerja sama bisa lebih konkret dan berdampak,” katanya.


Sementara itu, Ketua Perpit Jateng yang baru dilantik, Siek Siang Yung akrab disapa Ayung mengaku optimistis. Menurutnya, Jawa Tengah hari ini jauh lebih ramah investasi dibanding beberapa tahun lalu.


“Perizinannya sekarang jauh lebih mudah. Gubernur memberi ruang bagi pengusaha untuk bergerak. Kami berharap, ke depan bisa lebih bagus lagi,” ungkapnya.


Di tengah gemerlap acara malam itu, terselip harapan besar: kolaborasi antara pemerintah dan komunitas pengusaha Tionghoa tak hanya berhenti pada seremoni, tetapi menjelma menjadi pabrik-pabrik baru, lapangan kerja baru, dan wajah ekonomi Jawa Tengah yang semakin berdaya.


Dan mungkin, 10 tahun mendatang, orang akan mengenang malam pelantikan Perpit ini sebagai salah satu titik baliknya.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube