SEMARANG — Mimpi lama Elia Tri Retna Ningsih untuk berlibur ke Karimunjawa akhirnya terwujud. Perempuan asal Salatiga ini memutuskan memilih moda transportasi udara untuk kunjungan perdananya ke destinasi wisata eksotis di utara Jepara itu.
Meski harga tiket pesawat lebih mahal dibandingkan kapal laut, Elia mengaku lebih memilih kecepatan dan kenyamanan perjalanan udara.
"Iya, sudah lama pengin ke Karimunjawa naik kapal. Ternyata ada pesawat juga, baru tahu. Ya saya pilih pesawat karena cepat dan aman, apalagi ombak katanya kadang tinggi," ujar Elia kepada wartawan diswayjateng.com saat ditemui di Bandara Ahmad Yani, Semarang, sebelum keberangkatan, Jumat 4 Juli 2025.
Elia bersama rombongan keluarga berjumlah delapan orang berangkat menggunakan penerbangan perintis tujuan Karimunjawa yang saat ini mulai beroperasi kembali.
Rute udara ini menjadi angin segar bagi wisatawan yang ingin menjelajahi pulau-pulau indah Karimunjawa dengan waktu tempuh yang lebih singkat dibandingkan kapal laut yang bisa memakan waktu hingga 5 jam.
"Tiketnya sekitar Rp1.500.000 per orang. Ya standar lah untuk ke Karimunjawa, masih masuk akal," tambahnya.
Meski baru pertama kali menginjakkan kaki di Karimunjawa, Elia mengaku belum merancang agenda perjalanan secara rinci. Ia dan keluarga berencana menjelajahi kepulauan Karimunjawa selama beberapa hari hingga akhir pekan nanti.
"Sampai hari Minggu di sana, belum ada itinerary, nanti cari-cari di sana, mungkin lewat travel agent lokal. Yang penting berangkat dulu ke sana," ujarnya sambil tersenyum.
Soal kepulangan, Elia masih mempertimbangkan opsi terbaik. Ia mengungkapkan sempat kesulitan menemukan tiket pesawat dari Karimunjawa ke Semarang di aplikasi perjalanan daring.
"Tadi lihat di Traveloka belum muncul tiket pulangnya, mungkin nanti pulang pakai kapal saja. Belum sempat cari juga sih," jelasnya.
Setelah dibuka rute penerbangan ke Karimunjawa mendapat sambutan positif dari para pelancong, terutama mereka yang mengutamakan efisiensi waktu dan kenyamanan.
Rute ini sekaligus menjadi bagian penting dalam upaya mendorong konektivitas dan pertumbuhan pariwisata di Jawa Tengah, sebagaimana yang sebelumnya digagas oleh Gubernur Jateng dan Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Aviation, Susi Pudjiastuti.
Susi menyatakan kesiapan Susi Air untuk memperluas jaringan dan meningkatkan frekuensi penerbangan, asalkan mendapat dukungan dari pemerintah daerah.
"Butuh lima sampai sepuluh kali penerbangan ke Semarang? Kami siap. Cilacap pun siap, asal ada dukungan,” ujar Susi kepada Gubernur Jateng Ahmad Luthfi.
Maskapai feeder seperti Susi Air berperan penting dalam menghubungkan penumpang dari daerah ke bandara-bandara besar. Namun sayangnya, keberadaan mereka kerap luput dari perhatian para pengambil kebijakan.
"Kami sering sendirian kalau minta dukungan, karena kami bukan pemain besar. Jadi sering tidak terlalu diperhatikan," ungkapnya jujur.
Saat laut bergelombang tinggi dan kapal tak bisa beroperasi, penerbangan kecil menjadi satu-satunya solusi. “Kalau harus naik kapal Pelni, biayanya mahal. Solusinya ya penerbangan kecil yang konsisten,” jelas Susi.
Meski demikian, tantangan berat tetap menghadang: tingkat okupansi penumpang yang rendah dapat membuat maskapai terpaksa berhenti beroperasi.
"Kalau penumpang di bawah delapan orang selama tiga bulan berturut-turut, kami harus berhenti. Tidak mungkin terus-menerus rugi," keluhnya.
“Karimunjawa bisa dijangkau hanya satu jam lewat udara. Tapi kalau lewat laut, bisa delapan sampai sepuluh jam, atau bahkan tidak bisa sama sekali. Ini adalah terobosan transportasi,” tegasnya.