Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Nyoto Bareng Anak Difabel, Cara Sederhana Ahmad Luthfi Menebar Bahagia

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat berfoto bersama anak-anak defabel Semarang usai menyantap soto di warung soto pak Wito jalan Kariadi Semarang Selasa 28 Oktober 2025. Foto : Umda

SEMARANG — Uap hangat dari mangkuk soto mengepul di udara, berpadu dengan tawa anak-anak difabel yang duduk melingkar di meja panjang.


Di antara mereka, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tampak begitu lepas, menyendok soto sambil bercengkerama akrab. Tak ada jarak, tak ada sekat — hanya kehangatan dan kebahagiaan yang terasa nyata.


Siang itu, Selasa (28/10/2025), warung Soto Pak Wito Cabang Kariadi mendadak menjadi tempat istimewa.


Bukan hanya karena tasyakuran satu tahun cabangnya, tetapi karena momen sederhana yang menghadirkan makna besar: makan soto bersama kelompok difabel Kota Semarang.


Luthfi datang tanpa protokol berlebihan. Ia menyalami satu per satu, menyapa ramah, bahkan menunduk ketika seorang anak difabel menunjukkan hasil karyanya.


Suasana berubah haru ketika beberapa anak membaca puisi dan bernyanyi di hadapannya. Gubernur itu beberapa kali memeluk dan mengelus kepala mereka, seolah ingin memastikan bahwa setiap dari mereka merasa dihargai dan dicintai.


“Saya adalah Bapaknya Difabel Jawa Tengah,” ucapnya lembut. “Setiap kunjungan ke daerah, saya pasti sempatkan bertemu mereka. Saya sendiri punya anak difabel, dan saya tidak pernah malu atau canggung. Justru mereka yang membuat saya belajar banyak tentang ketulusan.”


Bagi Ahmad Luthfi, kelompok difabel bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berdaya.


“Mereka punya kebahagiaan di tengah keterbatasan. Tugas pemerintah adalah memastikan mereka mendapat kesempatan pekerjaan, keterampilan, usaha kecil agar mereka punya daya guna bagi diri sendiri dan orang lain,” katanya.

Data Dinas Sosial mencatat, jumlah penyandang disabilitas di Jawa Tengah mencapai 117.404 orang, atau sekitar 0,003 persen dari total penduduk.


Bagi Luthfi, angka itu bukan statistik, melainkan wajah-wajah yang harus diberdayakan.


Pemprov Jateng, lanjutnya, terus menumbuhkan konsep Jateng Inklusi melalui program seperti Kecamatan Berdaya yang memayungi kelompok difabel, perempuan, lansia, dan pemuda.


Program itu tak hanya membuka ruang pelatihan dan akses pekerjaan, tetapi juga perlindungan sosial dan hukum.


Ia juga mendorong agar perusahaan—baik BUMD, BUMN, maupun swasta—memberi ruang bagi pekerja difabel.


“Di Jawa Tengah sudah berjalan. Minimal 2% di BUMD atau BUMN, dan 1% di perusahaan swasta. Ini terus kami dorong,” ujarnya.


Di tengah suasana penuh tawa dan haru itu, pemilik warung Soto Pak Wito pun ikut tersentuh. Ia yang menggagas acara “nyoto bareng” itu kemudian mengumumkan tekadnya menjadi sahabat difabel.


“Mulai hari ini saya akan menjadi sahabat difabel. Hari ini, besok, dan seterusnya, saya akan dukung mereka,” katanya dengan mata berbinar.


Dan di meja panjang itu, di antara soto hangat dan senyum yang tak henti mengembang, kebahagiaan sederhana benar-benar terasa nyata — ketika seorang gubernur memilih berbagi bukan lewat pidato atau janji, melainkan dengan semangkuk soto dan pelukan tulus.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube