SEMARANG — Banyak cara masyarakat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia. Bagi sebagian warga, perayaan dilakukan dengan menggelar karnaval, lomba-lomba, hingga acara syukuran di lingkungan masing-masing.
Namun, ada pula komunitas yang memilih cara berbeda. Seperti yang dilakukan oleh komunitas pengguna Yamaha Fazzio, mereka merayakan kemerdekaan dengan cara unik dengan napak tilas sejarah dan mengajak anggotanya untuk lebih bijak terhadap alam.
Tradisi tahunan bertajuk Fazzio Touring Merdeka ini tidak hanya digelar di Kota Semarang, tetapi juga berlangsung di Solo Raya dan Magelang.
Menurut Bill Gunawan, Chief DDS 3 PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) DDS 3, kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan konsumen Fazzio terhadap jasa para pahlawan bangsa sekaligus pengingat pentingnya menjaga lingkungan.
“Teman-teman dari konsumen Fazzio ingin merayakan HUT RI ke-80 dengan cara mereka sendiri. Tidak hanya kumpul, motoran bersama, atau main game, tetapi juga mengunjungi beberapa tempat bersejarah. Mereka ingin merasakan kembali perjuangan para pahlawan yang dahulu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Bill kemarin
Dalam kegiatan di Solo Raya, peserta touring mengunjungi Keraton Kartasura dan Monumen Gempa 2006 atau Taman Gajah Putih di Boyolali. Kedua lokasi tersebut dipilih bukan hanya karena nilai sejarah, tetapi juga sarat makna perjuangan dan kesadaran ekologis.
Di Keraton Kartasura, peserta diajak menyusuri jejak raja-raja Mataram yang bersama rakyat berjuang melawan penjajah. Sementara di Monumen Gempa 2006, mereka belajar bagaimana sebuah bencana besar pernah melanda, menghancurkan rumah-rumah, dan menelan banyak korban jiwa. Dari sana, mereka diajak merenung betapa pentingnya hidup selaras dengan alam.
Setelah dari dua lokasi tersebut, rombongan singgah di Tasero atau Taman Sehat Rejosari, sebuah ruang terbuka hijau di Boyolali. Di sini, para peserta melepas penat dengan berbagai permainan seru seperti memindahkan sedotan ke botol dan permainan tiup bola.
Lebih dari sekadar perjalanan, napak tilas ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Salah satunya Ayunda, konsumen Fazzio asal Jebres, Solo.
“Wah, seru banget! Kami tidak hanya diajak bersenang-senang, tetapi juga belajar. Di Keraton Kartasura, kami diajak mengingat perjuangan melawan penjajah. Di Museum Gempa Boyolali, kami belajar bagaimana harus lebih arif dengan alam. Jangan buang sampah sembarangan, kurangi plastik, dan jaga lingkungan kita,” kata Ayunda.
Menurut Bill, pesan ini sangat relevan dengan generasi muda. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga mengisinya dengan hal-hal positif.
“Kita sebagai pewaris bangsa harus mengisi kemerdekaan dengan langkah kecil tapi berdampak besar. Misalnya tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi plastik, hingga tidak memakai sedotan sekali pakai. Hal sederhana ini bisa jadi warisan penting untuk masa depan,” tambahnya.