SEMARANG — Di ujung Kampung Muntal, RW 5 Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, berdiri sebuah kontainer biru sederhana. Bukan sekadar tempat besi bekas, kontainer itu telah disulap dan menjelma menjadi pusat aktivitas para kader Bank Sampah Mawar Patemon dalam mengelola sampah yang sudah dikumpulkan warga.
Setiap bulannya, pada minggu ke empat puluhan kader mengenakan seragam hijau mulai sibuk memilah tumpukan sampah yang saling berdatangan baik dari warga langsung maupun jemputan menggunakan mobil pickup yang mengambil dari door to door.
Botol galon bekas, botol plastik, kardus, minyak jelantah, hingga kaleng bekas mulai menumpuk sejak dibukaya Bank Sampah Mawar pada pukul 09.00 wib. Sampah-sampah mulai ditimbang ditimbang, dipilah, lalu dihargai.
Yang membedakan dengan Bank Sampah lainnya, Bank Sampah Mawar Rw 5 Patemon ini hasil pendapatan sampah dari anggota tidak hanya dalam bentuk tabungan uang, tetapi juga bisa dikonversikan menjadi Tabungan Emas yang bisa diambil setiap tahunnya baik dalam bentuk uang tunai atau emas fisik.
Langkah inovatif ini hadir melalui kolaborasi antara Bank Sampah Mawar dengan PT Pegadaian, dalam program "Mengemaskan Indonesia". Inisiatif ini mendorong masyarakat untuk menabung emas sebagai investasi jangka panjang yang nilainya terus meningkat.
Dari sampah menjadi kilau emas
Ketua Bank Sampah Mawar RW 5 Patemon Sumiyati mengisahkan, perjalanan bank sampah dimulai sejak tahun 2019. Saat itu, program berjalan di tingkat kelompok kecil seperti Dawis. Baru pada 2021, Bank Sampah Mawar resmi memiliki Surat Keputusan (SK) Kelurahan sehingga semakin terorganisir.
"Kami mewajibkan setiap RT di wilayah Patemon memiliki kegiatan pemilahan sampah. Dari situlah muncul kesadaran bahwa sampah tidak hanya sekadar limbah, tapi punya nilai ekonomi," ungkapnya kepada Diswayjateng.com, Minggu 24 Agustus 2025.
Kini, Bank Sampah Mawar memiliki sekitar 200 nasabah aktif, dengan 35 di antaranya memilih menabung dalam bentuk emas. Setiap bulannya, bank sampah ini mampu mengumpulkan 1,5 hingga 2 ton sampah anorganik yang kemudian dijual ke pengepul. Hasil penjualannya kemudian dicatatkan ke buku tabungan, baik sebagai saldo uang tunai maupun konversi emas di Pegadaian.
Ragam sampah bernilai tinggi
Dari pantauan dilapangan para kader mulai menimbang sampah yang masuk dan memilah sampah baik yang sesuai dari jenis, ukurannya. Hal ini dilakukan agar nilai jual semakin tinggi.
Jenis sampah yang dikumpulkan pun beragam. Mulai dari kertas bekas (koran, kardus, hingga HVS), kaleng, besi, tembaga, aluminium, plastik, hingga minyak jelantah. Dari semua itu, aluminium menjadi komoditas dengan nilai tertinggi, mencapai Rp15 hingga Rp19 ribu per kilogram.
"Kami selalu menekankan kepada warga agar memilah sampah dari rumah. Jika sampah sudah dipilah, harganya bisa lebih tinggi. Misalnya, plastik yang tercampur dengan sisa makanan tentu harganya lebih rendah dibanding plastik bersih," jelas wanita yang dinobatkan jadi ketua RT wanita pertama di Kelurahan Patemon tersebut.
Tabungan emas jadi investasi
Kerja sama dengan Pegadaian membuka peluang baru. Masyarakat tidak hanya sekadar menyetor sampah untuk ditukar uang tunai, tetapi bisa langsung dikonversi menjadi emas. Emas yang ditabung dicatat dalam buku tabungan resmi Pegadaian.
"Awalnya total tabungan emas yang terkumpul baru 25 gram dari semua nasabah. Ada juga yang menabung pribadi hingga 3 gram. Tapi ini langkah awal yang luar biasa. Bayangkan, dari sampah yang dianggap tidak berharga bisa menjadi investasi masa depan," katanya bangga.
Emas dipilih karena nilainya stabil bahkan cenderung naik setiap tahun. Warga pun diajak untuk lebih bijak dalam memilih instrumen simpanan.
"Kami sosialisasi tidak hanya di RW 5, tapi juga di seluruh RT di Kelurahan Patemon. Responnya sangat baik. Banyak yang mulai tertarik ikut tabungan emas," tambahnya.
Mengubah pola pikir
Masyarakat pedesaan umumnya lebih memilih uang tunai karena bisa langsung digunakan. Namun, perlahan-lahan pola pikir itu mulai berubah. Melalui pendekatan yang konsisten, Bank Sampah Mawar berhasil meyakinkan warga bahwa menabung emas adalah investasi jangka panjang yang lebih menjanjikan.
"Sampah yang dulunya hanya dibuang sembarangan, kini bisa memberikan nilai ekonomi dan bahkan menjadi tabungan emas. Itu bukti nyata bahwa jika dikelola dengan benar, sampah bukan masalah, melainkan berkah," Papar Sumiyati.
Bank sampah percontohan
Dengan lebih dari 200 nasabah dan puluhan gram emas yang sudah terkumpul, Bank Sampah Mawar Patemon menjadi contoh nyata gerakan ekonomi hijau berbasis masyarakat. Harapannya, inovasi ini bisa terus berkembang dan ditiru oleh wilayah lain.
"Kami berharap semakin banyak warga yang ikut serta. Semakin besar partisipasi, semakin besar pula dampaknya bagi lingkungan dan perekonomian warga. Ke depan, kami ingin program ini bisa berkembang tidak hanya di Kelurahan Patemon, tapi juga di seluruh Semarang," pungkasnya.
Program Bank Sampah Mawar tidak hanya soal menabung dan berinvestasi. Ada pula kegiatan sedekah sampah, di mana sebagian hasil pengelolaan disalurkan kepada warga dhuafa setiap bulan.
"Selain membantu warga menabung, kami ingin menghadirkan manfaat sosial. Jadi sampah bukan hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tapi juga bisa membantu masyarakat yang membutuhkan," ujarnya Sumiyati.
Ketua RW 5 Kelurahan Patemon, Suanan mengungkapkan bahwa ide awal bank sampah muncul saat kerja bakti warga. Sebelum ada kesadaran lingkungan, sampah rumah tangga kerap dibuang begitu saja ke sungai atau bahkan dibakar.
"Kalau dibuang ke sungai, akibatnya banjir. Kalau dibakar, asapnya mengganggu kesehatan. Dari situlah muncul inisiatif, terutama dari ibu-ibu PKK, untuk memilah sampah," ujar Suanan.
Bank Sampah Mawar RW 5 berjalan dengan sistem tabungan. Warga yang menabung sampah akan mendapatkan catatan saldo, mirip seperti rekening bank pada umumnya. Hasil tabungan ini bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai atau ditukar menjadi emas.
"Kebanyakan warga kami memilih ditukar emas atau ditabung untuk kebutuhan tahunan. Ada juga yang mengambil setiap bulan. Semua pencatatan administrasi dikelola oleh Ketua Bank Sampah," jelas Suanan.
Ia menambahkan program bank sampah ini awalnya hanya melibatkan tiga RT. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesadaran warga, kini sudah berkembang hingga mencakup 7 RT dengan sekitar 340 kepala keluarga di setiap RW.
"Awal mulanya di RW5 ini hanya ada 3 RT, namun setelah adanya pemekaran kini menjadi 7 RT. Sehingga anggota Bank Sampah Mawar anggotanya semakin banyak," terangnya.
Kisah sukses Bank Sampah RW 5 Patemon ini menjadi inspirasi bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat mampu menciptakan perubahan besar. Dari kebiasaan lama yang merusak lingkungan, kini warga mampu menjadikan sampah sebagai sumber daya berharga dan dapat berinvestasi menjadi emas.
"Awalnya hanya kerja bakti, sekarang sudah bisa menabung dari sampah. Bahkan jadi emas. Itu sesuatu yang luar biasa bagi warga kami," tutup Suanan dengan bangga.