Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Masjid Al Muhajirin Kota Semarang Buka 24 Jam, Sediakan Kasur dan Makanan Gratis untuk Musafir

24 JAM - Per 1 September Masjid Al Muhajirin resmi buka selama 24 jam
dengan fasilitas kasur serta makanan dan minuman gratis untuk para musafir. (wahyu sulistiyawan/disway jateng)

SEMARANG — Bagi sebagian besar masyarakat, masjid adalah tempat ibadah dan pusat kegiatan umat Islam dan sebagian pengurus masjid melarang ada yang menginap. 


Namun, di Kota Semarang ada sebuah masjid yang mencoba menghadirkan wajah berbeda. Masjid Al Muhajirin yang berada di jalan Kauman Raya No.10, Palebon, Kecamatan Pedurungan justru membuka 24 jam penuh, dan mempersilahkan para musafir untuk berisitahat dan bermalam.


Tidak hanya menyediakan kasur untuk beristirahan, Masjid Al Muhajirin juga memfasilitasi berupa minuman dan mie instan untuk para musafir.


Pemandangan itu tampak saat Susilo, Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin, sibuk merapikan enam kasur busa lengkap dengan bantal dan sprai biru. Kasur-kasur itu bukan untuk disewakan, melainkan sengaja disediakan secara gratis bagi para musafir yang singgah.


"Alhamdulillah mulai tanggal 1 September kemarin masjid ini launching dibuka 24 jam. Jadi tidak boleh ada pintu gerbang yang ditutup, lampu juga tidak boleh dimatikan. Masjid tetap terang dan pintunya selalu terbuka,” ujar Susilo kepada diswayjateng.com, Kamis 4 September 2025.


Ibadah tanpa batas waktu


Menurut Susilo, keputusan membuka masjid selama 24 jam dilandasi keyakinan bahwa hubungan manusia dengan Sang Pencipta tidak boleh dibatasi oleh waktu.


"Siapapun mau salat jam berapa pun, ini kami sediakan. Karena ibadah tidak boleh diatur jamnya," katanya.


Selama ini, banyak musafir yang sering kali kebingungan mencari penginapan atau sekadar tempat beristirahat. Dengan adanya Masjid Al Muhajirin yang kini terbuka penuh untuk umat sangat memberikan solusi.


"Kami sediakan kasur, minuman, bahkan ada mie instan kalau masih tersedia. Jadi mereka bisa tetap beribadah, tapi juga nyaman istirahatnya,” tambahnya.


Sebelum kebijakan baru ini, pintu masjid biasanya ditutup setelah salat Isya. Hal itu menyulitkan orang yang ingin mampir untuk sekadar salat, menggunakan toilet, atau mencari tempat beristirahat.


"Kalau dulu, tetap ada musafir yang ingin singgah. Namun, harus izin dulu ke takmir jadi sekarang lebih bebas, cukup isi buku tamu dan bisa langsung menginap," jelasnya.


Fasilitas Gratis untuk musafir


Masjid Al Muhajirin menyediakan fasilitas sederhana namun bermanfaat seperti kasur, bantal, kipas angin, minuman air dingin, teh, kopi dan mie instan. Semua diberikan oleh para donatur yang juga jamaah masjid, meskipun dana kas masih mencukupi.


"Alhamdulillah ada donatur yang rutin tiap malam habis Isya mengantar kopi, teh, bahkan fasilitas lain seperti kacamata baca juga dari donatur," ucap Susilo.


Untuk keamanan, pihak masjid juga menyiapkan satpam malam dan CCTV yang aktif 24 jam. 

"Kekhawatiran soal kehilangan barang kami atasi dengan satpam dan CCTV, jadi barang bawaan musafir maupun milik masjid Insyaallah aman," tambahnya. 


Dari pasar tiban hingga UMKM


Keunikan Masjid Al Muhajirin tidak berhenti pada layanan ibadah. Masjid ini juga dikenal sebagai masjid pemberdaya, yakni masjid yang berupaya mengentaskan kemiskinan masyarakat sekitar melalui kegiatan ekonomi.


Setiap pagi setelah Subuh hingga pukul 10.00, halaman masjid berubah menjadi Pasar Tiban. Beragam kebutuhan harian dijual, mulai dari makanan siap saji, sayuran, hingga daging ayam dan sapi.


"Banyak pedagang kaki lima yang dulu berjualan di pinggir jalan dan menimbulkan kemacetan, sekarang kami tarik ke area masjid. Kami sediakan meja kursi supaya pembeli bisa makan di tempat. Jadi lebih tertata, jalanan tidak macet, pedagang tetap laris," terang Susilo.


Masjid juga merencanakan peluncuran acara pertunjukan untuk menarik pengunjung agar UMKM di kawasan ini semakin hidup.


Di Kota Semarang sendiri, terdapat lima masjid percontohan yang mengusung konsep serupa, salah satunya Al Muhajirin. Namun, pembukaan selama 24 jam baru resmi dilakukan sejak 1 September 2025 dan murni ide dari jamaah sendiri.


"Ini murni ide jemaah, bukan arahan dari Kemenag. Tujuannya agar masjid makin makmur," kata Susilo.


Ia menegaskan, meski ada masjid lain yang melarang anak kecil tidur atau membatasi jamaah tertentu, Al Muhajirin memilih jalan berbeda.


"Kalau berkaca pada zaman Rasulullah, masjid itu pusat ibadah, dakwah, dan ekonomi. Jadi kami justru ingin menghidupkan fungsi itu," terangnya.


Masjid Al Muhajirin banyak disinggahi musafir, tidak hanya dari sekitar Jawa, tetapi juga dari luar pulau. "Kemarin ada yang dari Kalimantan singgah di sini," kata Susilo.


Angga Prasetya, mahasiswa tingkat akhir asal Kendal mengaku sangat terbantu dengan kehadiran masjid yang buka 24 jam. Ia kerap bolak-balik Kendal–Semarang untuk mengurus revisi skripsinya ke rumah dosen yang lokasinya tidak jauh dari masjid. 


"Ini pertama kali saya menginap di Masjid Al Muhajirin. Sambutan takmir sangat ramah, fasilitasnya juga memadai," ujarnya usai mengisi buku tamu dari barcode Handphone.


Menurut Angga, fasilitas yang tersedia cukup untuk menunjang istirahat mahasiswa seperti dirinya. "Di sini ada tempat tidur, teh, kopi, dan minuman. Semuanya gratis," jelasnya.


Mahasiswa Uin Walisongo ini menuturkan, awalnya mengetahui informasi masjid 24 jam dari sebuah pamflet besar yang terpampang di sekitar lokasi."Waktu lewat, lihat tulisan 24 jam. Akhirnya saya tanya langsung ke takmir, dan memang benar boleh menginap," kata Angga.


Bagi Angga, masjid ini menjadi solusi sederhana untuk mengurangi lelah perjalanan sekaligus tetap fokus menyelesaikan revisi skripsi. "Kalau pulang pergi terus, capek di jalan. Di sini bisa istirahat dulu sebelum lanjut menemui dosen," tambahnya.