Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Kisah Suram Kampung Pelangi Kota Semarang, Ikon Wisata Warna-warni yang Kini Memudar

Wisata Kampung Pelangi Kota Semarang yang dulu sempat jadi destinasi viral kini sudah mulai memudar. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Di balik gang sempit yang dahulu dipenuhi wisatawan dan konten kreator, kini hanya tersisa sunyi. Kampung Pelangi di Kota Semarang, yang sempat menjadi destinasi wisata populer berkat rumah-rumah bercat warna-warni dan mural instagramable, kini terlihat lusuh dan sepi pengunjung.


Mariati, warga setempat, duduk termenung di depan rumahnya yang cat birunya mulai terkelupas. 


"Sekarang sudah enggak jalan, rugi," tuturnya lirih, mengenang masa kejayaan kampungnya saat menjadi primadona wisata urban sekitar tahun 2017–2019.


Kala itu, Kampung Pelangi dulunya dikenal sebagai kawasan Gunung Brintik bertransformasi menjadi destinasi unggulan berkat inisiatif pemerintah kota. 


Rumah-rumah dihias warna-warni, menarik ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan, para selebritas dan influencer ramai datang untuk membuat konten dan syuting sinetron.


"Sabtu-Minggu saya bisa dapat Rp800 ribu hanya dari jualan es," kenang Mariati yang kala itu menjual ratusan cup minuman ringan setiap akhir pekan.


Kampung Pelangi sempat menjadi hotspot wisata viral di Semarang. Deretan rumah dengan mural warna-warni menciptakan pemandangan yang menarik untuk berswafoto. 

Warung kopi, toko suvenir, dan pedagang lokal merasakan dampak ekonomi positif dari ramainya wisatawan.


"Dulu ramai banget, orang foto-foto, beli oleh-oleh, bawa anak-anak, rasanya hidup," ujar Mariati.

Bahkan sinetron dan tayangan TV nasional seperti Ojek Pengkolan dan Wasiat Bapak pernah melakukan syuting di lokasi tersebut. Namun, kejayaan itu mulai meredup sejak pandemi COVID-19 melanda.


Ketika pandemi menghantam, aktivitas pariwisata langsung terhenti, jalan-jalan yang dulu ramai kini lengang. Cat pada dinding rumah memudar, mural mengelupas, dan semangat warga perlahan luntur. 


Tidak ada lagi bantuan atau promosi dari pemerintah, membuat warga merasa diabaikan.


"Seperti lepas tangan," keluh Mariati tentang kurangnya perhatian pasca pandemi.


Andini, salah satu perajin suvenir, bahkan sudah menghentikan produksinya karena tidak ada pembeli. "Sekarang jualan souvenir sudah tidak jalan lagi," kata Mariati.


Meski kondisi saat ini jauh dari gemerlap masa lalu, warga seperti Mariati dan Kokoh Harianto masih menyimpan harapan. Mereka yakin, jika pemerintah turun tangan untuk memperbaiki fasilitas dan melakukan promosi ulang, Kampung Pelangi bisa kembali menjadi destinasi wisata unggulan di Semarang.


“Kalau ada yang memperbaiki, kampung ini pasti bisa hidup lagi. Warga siap diajak kerja bareng,” harap Mariati.


Kokoh Harianto, yang dulu mengajarkan wisatawan membuat bunga kertas, kini hanya memproduksi kerajinan itu untuk usaha karangan bunga pribadi. “Dulu banyak turis ikut belajar, sekarang buat usaha aja,” ujarnya.


Warga berharap, semangat dan warna Kampung Pelangi Semarang dapat kembali menyala seperti dulu—menjadi ikon wisata kreatif yang hidup dan berdaya.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube