SEMARANG — Suasana penuh warna dan semangat kebersamaan tampak mewarnai kawasan Taman Tirto Asri, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Minggu pagi 26 Oktober 2025. Ratusan warga memadati area tersebut untuk menyaksikan Kirab Budaya dan Pawai Gunungan Hasil Bumi, bagian dari peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun ini.
Sebanyak 14 gunungan hasil bumi diarak oleh warga dari berbagai kelurahan di Kecamatan Mijen. Gunungan-gunungan itu disusun dari hasil panen seperti cabai, tomat, terong, kacang panjang, dan berbagai hasil bumi lainnya, membentuk pemandangan yang indah sekaligus sarat makna.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut pawai gunungan bukan sekadar hiburan, melainkan manifestasi rasa syukur dan kemandirian pangan masyarakat.
“Luar biasa keren acaranya. Kita bisa melihat bagaimana kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam upayanya melestarikan warisan budaya,” ujar Agustina dengan semangat.
Ia menambahkan, isi gunungan yang beragam mencerminkan kekayaan alam Semarang sekaligus mengingatkan pentingnya ketahanan pangan lokal.
“Gunungannya isinya macam-macam, ada lombok, tomat, terong, kacang panjang, dan lainnya. Dari sini kita bisa melihat kemandirian pangan masyarakat Semarang,” ungkapnya.
Menariknya, seluruh kegiatan ini digelar tanpa menggunakan dana APBD. Warga berinisiatif mengumpulkan bahan, menyusun gunungan, hingga menyiapkan kirab budaya secara swadaya.
Agustina menyebut semangat itu menjadi bukti nyata kuatnya karakter masyarakat Mijen.
“Inilah yang istimewa dari Mijen. Semua dipersiapkan bersama-sama oleh warga. Gotong royong ini benar-benar luar biasa. Tidak pakai APBD sama sekali, tapi semangatnya sangat tinggi,” ujarnya penuh kebanggaan.
Selain menjadi tontonan menarik, kirab budaya ini juga memiliki nilai edukatif. Agustina berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kembali rasa cinta budaya dan nasionalisme di kalangan anak muda, terutama di momentum Hari Sumpah Pemuda.
“Momentum Hari Sumpah Pemuda ini semoga tidak hanya menjadi tontonan, tapi juga tuntunan bagi generasi muda agar lebih mencintai budayanya dan memahami akar tradisinya,” tuturnya.
Selain aspek budaya, kegiatan ini juga membawa dampak ekonomi positif. Banyak pengunjung yang datang tidak hanya menikmati kirab, tetapi juga berbelanja produk lokal dari pelaku UMKM yang berjejer di sekitar lokasi acara.
“Awalnya kegiatan ini direncanakan pada Agustus, tapi diundur karena situasi politik. Ternyata malah lebih ramai. Penontonnya banyak, UMKM-nya laris, ekonomi masyarakat ikut bergerak,” ujar Agustina.
Pedagang makanan dan cendera mata mengaku omzet mereka meningkat tajam selama acara berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya juga mampu menjadi magnet ekonomi kreatif bagi warga sekitar.
Kirab budaya kali ini merupakan puncak dari rangkaian acara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kecamatan Mijen. Sehari sebelumnya, Sabtu (25/10), warga disuguhkan pertunjukan Kuda Lumping Turonggo Cipto Budoyo serta Wayang on the Street di kawasan yang sama.
Sebagai penutup, malam hari diwarnai pagelaran wayang kulit yang menggambarkan perpaduan antara tradisi dan kemajuan zaman dan sebuah simbol bahwa Kota Semarang tengah bertransformasi menjadi kota modern yang tetap berakar pada budaya.
“Terima kasih untuk Kecamatan Mijen dan seluruh masyarakat yang telah menyemarakkan peringatan Sumpah Pemuda dengan penuh kreativitas dan semangat lokal. Tahun ini sudah hebat, semoga tahun depan lebih hebat lagi," ujar Agustina.