Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Jelang HUT RI ke-80, Persewaan Kostum Adat dan Karnaval di Kota Semarang Meningkat 30 Persen

Persewaan pakaian adat dan kostum karnaval meningkat jelang perayaan dan upacara peringatan HUT ke 80 RI. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, bisnis persewaan kostum adat dan karnaval di Kota Semarang mengalami peningkatan signifikan. 


Permintaan kostum melonjak hingga 30 persen dibanding tahun lalu, terutama untuk kebutuhan upacara di sekolah, instansi pemerintah, hingga karnaval tingkat kelurahan.


Hal itu diakui oleh I Wayan Jaya Sutantra, pemilik Saraswati Collection dan Sanggar Tari Saraswati yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia tari dan penyewaan kostum.


"Untuk tahun ini memang meningkat lagi sekitar 30 persen dari tahun kemarin. Kalau dibandingkan dengan hari biasa, kenaikannya bisa sampai 100 persen. Kostum yang keluar bisa mencapai ratusan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa," ungkap Wayan kepada Diswayjateng.com Sabtu 16 Agustus 2025.


Menurut Wayan, koleksi kostum di sanggarnya mencapai ribuan set, mulai dari pakaian adat berbagai provinsi di Indonesia hingga busana karnaval modern. Satu jenis kostum bahkan tersedia hingga 20 stel dengan ukuran berbeda.


"Peminjaman banyak datang dari sekolah dan kantor. Kalau asalnya, rata-rata masih dari Kota Semarang, tapi ada juga dari Kudus, Demak, sampai Cilacap,” jelasnya.


Ia menambahkan, jenis kostum yang paling banyak dicari adalah pakaian adat Jawa, Bali, Dayak, hingga Papua, karena dianggap praktis sekaligus etnik. Tren saat ini, banyak pelanggan memilih kostum adat yang lebih simpel agar mudah dikenakan.


Harga sewa kostum di Saraswati Collection berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp1 Juta dengan durasi peminjaman selama tiga hari.


"Kami memang kasih waktu tiga hari supaya tidak terburu-buru. Pengembalian kostum juga tidak perlu dicuci sendiri, karena sabunnya khusus dan pencuciannya kami tangani," ujar Wayan.


Tingginya permintaan menjelang Agustusan membuat Wayan dan tiga asistennya harus bekerja ekstra. Bahkan, sanggar yang ia kelola sering kedatangan penyewa hingga larut malam.


"Kadang sampai jam 12 malam masih ada yang antre. Tapi tetap kami layani karena ini memang musimnya masyarakat butuh kostum untuk lomba dan upacara," ucapnya sambil tersenyum.

Wayan bercerita, awalnya ia mengoleksi kostum sejak tahun 1984. Latar belakangnya sebagai guru tari membuatnya terpacu untuk menyiapkan berbagai busana agar anak didiknya tak kesulitan saat pentas.


"Dulu saya sering melatih tari di Gedung Wanita yang lama. Dari situ, koleksi makin banyak, dan sekarang jadi usaha penyewaan. Bahkan anak saya juga meneruskan kecintaan terhadap dunia tari," katanya.


Salah satu warga Semarang, Eca (25), mengaku menyewa kostum adat Dayak untuk mengikuti karnaval di kampungnya.


"Alasan saya menyewa ini untuk kegiatan di kampung. Jadi di kampung ada acara upacara gitu. Karena saya ada keturunan Dayak, jadi pilih baju adat Dayak. Kebetulan saya dari Banjarmasin,” tutur Eca.


Menurut Eca, baju adat Dayak yang dipilihnya terasa sederhana namun tetap penuh makna. "Ini bajunya simpel, warnanya hitam, dan saya suka warna hitam. Tapi juga ada warna-warni yang mengingatkan saya pada asal-usul. Jadi selain nyaman dipakai, juga ada nilai kenangan dari kampung halaman," jelasnya.


Eca mengaku baru pertama kali menyewa baju adat di tempat tersebut. Namun, kesan pertama yang ia rasakan sangat positif.


"Kualitasnya bagus, karena biasanya baju adat itu harus pakai daleman biar enggak gatal. Tapi di sini, bajunya enggak bikin gatal sama sekali. Jadi nyaman banget dipakai. Saya pasti rekomendasi ke teman-teman," ungkapnya.


Ia menambahkan bahwa informasi mengenai tempat penyewaan kostum tersebut didapat dari temannya. "Tahu tempat ini dari teman. Baru pertama kali nyewa di sini," katanya.


Di kampung tempat Eca tinggal, ada himbauan dari ketua RT agar masyarakat mengenakan pakaian adat pada saat upacara. Menurutnya, hal ini bukan beban, melainkan justru menjadi sebuah kebanggaan.


"Enggak keberatan sama sekali, malah harusnya ada kebanggaan karena ini kan momen setahun sekali. Jadi ada nilai kebersamaan, bisa sama-sama menjaga budaya," ungkap Eca dengan senyum.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube