SEMARANG — Furry "Mas Pur" Ojek Pengkolan Akhirnya Lulus S1 di Usia 42 Tahun, Perjalanan Panjang Furry Setya yang Menginspirasi
Siapa yang tak kenal Furry Setya Raharja, salah satu tokoh publik yang dikenal sebagai Mas Pur dalam sinetron Tukang Ojek Pengkolan (TOP).
Dibalik kesuksesannya sebagai aktor, Furry masih ingat akan pentingnya pendidikan meskipun sudah sukses didunia keartisan.
Pria asli Gunungpati, Kota Semarang ini baru saja menorehkan capaian istimewa yakni lulus kuliah strata satu (S1) di usia 42 tahun di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
Momen bahagia itu ia bagikan lewat akun Instagram pribadinya, menampilkan dirinya dengan pakaian hitam putih dan jas almamater biru khas UPGRIS.
Di situlah, publik mengetahui bahwa perjalanan akademis Furry yang sempat terhenti lebih dari dua dekade akhirnya berhasil ia tuntaskan.
Furry pertama kali mendaftar kuliah di Institut PGRI Semarang (kini UPGRIS) pada tahun 2001. Namun, enam tahun kemudian tepatnya 2007, ia harus mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
“Saat itu saya bilang ke bapak, saya mau berhenti kuliah dan mengadu nasib ke Jakarta,” ungkap Furry saat ditemui awak media di Semarang, Rabu 27 Agustus 2025.
Keputusan itu membawanya masuk ke dunia seni peran. Ia merintis karier dari bawah, hingga akhirnya dikenal luas sebagai pemeran Purnomo alias Mas Pur dalam sinetron populer Tukang Ojek Pengkolan.
Meski sukses di dunia hiburan, Furry tetap menyimpan kerinduan untuk menuntaskan pendidikan. Hal itu ia sebut sebagai janji kepada kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru sejak era 70-an.
“Bagi saya, ini hadiah terindah untuk orang tua saya. Mereka jadi guru sejak dulu, dan saya ingin menunjukkan kalau belajar itu tidak ada kata terlambat,” ujarnya dengan mata berbinar.
Kesempatan emas itu datang pada 2023, ketika ia mengikuti program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Berkat program ini, semua mata kuliah yang pernah ia tempuh sebelumnya bisa dikonversi, sehingga ia dapat melanjutkan kuliah secara daring dari Jakarta.
Dalam sidang skripsinya, Furry mengangkat topik yang erat dengan dunia keseniannya. Ia menulis penelitian berjudul: “Estetika Fragmentaris dan Bahasa Liris dalam Puisi-puisi Apito Lahire”.
Apito Lahire sendiri merupakan budayawan asal Tegal yang cukup dekat dengan Furry. Keduanya pernah sama-sama terlibat dalam antologi puisi Lilin-Lilin Legian pada 2002.
“Saya memang punya kedekatan dengan Apito. Jadi, penelitian ini terasa lebih personal,” kata Furry yang juga dikenal sebagai penyair dan teaterawan.
Meskipun kini resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan dari Fakultas Bahasa dan Seni UPGRIS, Furry mengaku belum berencana menekuni profesi guru. Ia menyadari bahwa usianya kini sudah 42 tahun.
“Saya sekarang masih ingin fokus di seni peran, layar lebar, konten digital, dan menulis. Insyaallah nanti pas wisuda saya juga akan menerbitkan buku antologi puisi,” tuturnya.
Selain berakting, Furry memang aktif menulis karya sastra. Ia ingin terus berkarya dan memberi kontribusi pada dunia seni melalui kata-kata.
Sebagai figur publik yang meniti jalan panjang sebelum meraih gelar sarjana, Furry menyampaikan pesan inspiratif bagi generasi muda Indonesia.
“Sekarang eranya serba digital. Dunia seperti ada di genggaman. Jadi, manfaatkan teknologi untuk terus belajar dan berkarya. Jangan mudah menyerah,” pesannya.
Meski sebagian besar aktivitasnya ada di Jakarta, Furry mengaku masih mempertimbangkan untuk kembali ke kampung halaman di Semarang.
“Kalau di Semarang mungkin lebih slow living. Tapi di era digital seperti ini, sebenarnya berkarya bisa dari mana saja,” pungkas pemeran Pak Wira dalam film Cocote Tonggo itu.