Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Fenomena Hujan Es di Boja Kendal, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

Warga tunjukan butiran es dari hujan yang turun Minggu 28 Juli 2025. (Ist)

SEMARANG — Hujan es yang mengguyur wilayah Boja, Kendal pada Minggu, 27 Juli 2025, mengejutkan warga setempat. Butiran es kecil jatuh bersamaan dengan hujan deras dan angin kencang yang berlangsung selama beberapa menit.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang menyebut bahwa fenomena ini merupakan dampak dari peningkatan aktivitas cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah.


Menurut Ferry Oktarisa, forecaster BMKG, peristiwa hujan es ini merupakan akibat dari serangkaian faktor meteorologis yang memicu terbentuknya awan konvektif dalam skala besar.


“Untuk hujan es yang terjadi di wilayah Jawa Tengah, termasuk Boja, memang disebabkan oleh peningkatan curah hujan yang cukup signifikan,'' jelas Ferry kepada diswayjateng.com Senin 28 Juli 2025.


Ditambahkan, ini terjadi karena adanya gelombang atmosfer Rossby yang aktif di wilayah Pulau Jawa, serta suhu permukaan laut di Laut Jawa yang sedang hangat.


Lebih lanjut, Ferry menjelaskan bahwa kelembapan udara di berbagai lapisan atmosfer yang cukup tinggi serta kondisi labilitas udara yang tidak stabil menjadi pemicu utama terbentuknya awan-awan tinggi yang dapat menghasilkan hujan es.


“Kondisi udara yang labil memungkinkan terbentuknya awan cumulonimbus yang menjulang tinggi hingga ke lapisan atas atmosfer. Awan inilah yang kemudian memicu hujan lebat disertai angin kencang, bahkan hujan es,” tambahnya.


BMKG Ahmad Yani juga menyampaikan bahwa peningkatan curah hujan ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga tanggal 30 Juli 2025, terutama di wilayah pegunungan, dataran tinggi, dan pesisir selatan Jawa Tengah.

“Fenomena serupa bisa saja terulang di beberapa daerah lain, terutama wilayah pegunungan dan dataran tinggi seperti di kawasan Ungaran, Magelang, hingga Wonosobo,'' tambahnya.


Meskipun saat ini masih masuk musim kemarau, lanjut Fery, tetapi adanya kondisi seperti ini sering disebut sebagai kemarau basah.


Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan hujan es.


Sebagai informasi, fenomena gelombang atmosfer Rossby adalah gelombang skala besar di atmosfer yang dapat memengaruhi pola cuaca secara signifikan. Ketika gelombang ini aktif di suatu wilayah, biasanya akan menimbulkan peningkatan curah hujan secara tiba-tiba.


“Gelombang Rossby ini aktif hampir di seluruh Pulau Jawa, dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Inilah yang menyebabkan pola cuaca beberapa hari terakhir cenderung ekstrem, meski belum masuk musim hujan secara resmi,” tutup Ferry.


Menurut BMKG, musim hujan di Jawa Tengah diperkirakan baru akan mulai pada akhir Oktober 2025.


Namun kondisi dinamika atmosfer yang tidak menentu di musim kemarau saat ini patut diwaspadai sebagai bagian dari perubahan iklim global.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube