UNGARAN — Bos Karaoke Paradise di kawasan wisata Bandungan, Kabupaten Semarang Slamet Iba Wancaya atau Ibo akhirnya angkat bicara terkait tuduhan merusak sebuah Masjid di Dusun Jetak, Desa Duren, Bandungan, Kabupaten.
Kepada wartawan secara khusus, Ibo turut mengklarifikasi narasi yang menyebut dirinya menghina Islam dan Hari Santri. Ibo bahkan mengaku, ia merasa dijebak dua pria mengaku wartawan yang belakangan salah satunya, mengkaim sebagai Pimpinan Redaksi (Pimpred) Media Online.
Bahkan, ia pun merasa diperas dengan nilai yang fantastis.
Secara gamblang, Ibo menceritakan ihwal perkara ini mencuat ke permukaan hingga memicu amarah tokoh agama hingga organisasi IsIam di Kabupaten Semarang dan sekitarnya.
Awalnya, kedua orang pria mengaku wartawan berinisial PJ dan MK datang ke tempat usaha Karaoke milik Ibo di Bandungan.
"PJ ini datang bersama teman-temannya minta dilayani free karaoke. Ada bukti kwitansi pelayanan karaoke yang mereka gunakan," ungkap Ibo.
Namun, tagihan ini oleh PJ dan rekannya ditolak dan enggan membayar, ujung-ujungnya minta gratisan.
Permintaan itu sulit dipenuhi karyawan Karaoke Paradise hingga sekelas Manager turun menyelesaikan tagihan, namun buntu.
"Manager saya kemudian menghubungi saya menyampaikan jika PJ dan rekannya minta gratisan, saya lantas menemui mereka," ujarnya.
Ibo sendiri secara terus terang sebenarnya enggan menemui PJ dan rekannya, MK saat itu. Namun, karena kasihan Manager dan karyawan lainnya mendapatkan tekanan Ibo selaku pemilik akhirnya turun tangan sendiri.
Saat bertemu, Ibo mengajak kedua oknnum wartawan itu ke sebuah resto untuk berbincang ringan.
Di tengah obrolan ringan, Ibo digiring pertanyaan terkait Hari Santri, bagaimana tanggapannya tentang IsIam.
Merasa tidak paham dengan topik pertanyaan Ibo pun menjawab tidak tahu, karena memang dirinya sebagai pengusaha Karaoke bukan dengan latar belakang Santri.
Dalam obrolan yang seharusnya bersifat pribadi dibalut bercanda, tanpa sepengetahuan Ibo justru dijadikan PJ dan MK bahan menjatuhkan nama dirinya sebagai pengusaha Karaoke.
"Saya jawab saya tidak paham santri, saya ini bukan santri, saya pengusaha Karaoke. Karena kadang saya banyak bercanda, banyak membual, ternyata tanpa sepengetahuan saya justru dijadikan konsumsi publik untuk diberitakan disebar-luaskan," terang Ibo.
Ibo merasa, cara-cara PJ dan MK tergolong doxing. Tindakan keduanya seakan menjebak dengan mencari-cari kesalahannya.
Dugaan doxing dilatarbelakangi dugaan pemerasan dialami Ibo, setelah kedua oknum wartawan itu membuat video menarasikan dirinya merusak Masjid, menghina agama Islam dan Santri.
Karena vidoe dengan narasi diplintir, Ibo merasa malu dan dirugikan oleh kedua oknum wartawan tersebut.
"Kami sudah sempat didamaikan di Polsek Bandungan. Saya minta videonya di takedown dan dihapus, tapi tuntutan PJ dan rekannya tidak masuk akal, nilainya sangat tinggi. Saya tidak mampu. Sudah saya tawarkan kasih Rp 10 juta tapi ditolak," ungkapnya.
Karena tak sanggup memenuhi permintaan dua oknum wartawan itu, akhirnya beredarlah video dengan narasikan Ibo merusak Masjid, menjelek-jelekan umat islam dan Santri.
Sementara, PJ sendiri memberikan bantahan ada pemerasan melalui rekan seorang pengacara yang terhubung dengannya.
"Tidak ada unsur pemerasan," ungkap seorang pengacara yang terhubung dengan PJ kepada wartawan Disway Jateng.