SEMARANG — Jawa Tengah semakin mengukuhkan diri sebagai pusat ekspor baru Indonesia. Dalam waktu dekat, Pemprov Jateng akan melepas ekspor massal produk unggulan hewan, ikan, dan tumbuhan ke berbagai negara.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jateng, Willy Indra Yunani, memastikan dukungan penuh Gubernur Ahmad Luthfi dalam mempercepat proses sertifikasi dan perizinan ekspor.
Dalam hal ini, Pemprov Jawa Tengah berkolaborasi erat dengan BKHIT Jateng untuk memperbesar penetrasi pasar global sekaligus membuka ruang investasi bagi pelaku usaha dalam dan luar negeri.
“Awal November kami akan melaksanakan go export dalam skala besar yang dilepas langsung oleh Gubernur dan Kepala Badan. Ini momentum bagi investor untuk masuk karena ekosistem ekspornya sudah siap,” ujar Willy seusai audiensi dengan Gubernur di Kantor Pemprov Jateng, Senin (20/10/2025).
Jawa Tengah saat ini mengekspor beragam komoditas strategis dengan nilai tinggi:
Sektor Hewan: Sarang burung walet 35.386 kg senilai Rp 1,27 triliun ke 14 negara, serta bulu bebek, kulit kambing, minyak jelantah, hingga tokek konsumsi.
Sektor Perikanan: Cumi-cumi 9,5 juta kg senilai Rp 427,9 miliar, disusul udang, layur, tuna, rajungan, dan rumput laut ke lebih dari 15 negara.
Sektor Tumbuhan: Kayu olahan 11,1 juta m³ dengan nilai Rp 1,36 triliun, kayu sengon, albasia, veneer, hingga bunga melati segar yang tembus pasar Asia, Eropa, dan Afrika.
“Permintaan dari Amerika, Tiongkok, Jepang, Korea, hingga Eropa terus meningkat. Hampir setiap hari ada pengiriman produk tersertifikasi dari Jawa Tengah,” ungkap Willy.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, Jawa Tengah justru menunjukkan daya saing ekspor yang semakin kuat.
“Kami membuka lebar sinergi dengan investor, eksportir, dan pelaku industri untuk memperkuat rantai pasok ekspor. Ini saatnya Jawa Tengah jadi hub ekspor nasional,” tegasnya.