SEMARANG — Cuaca ekstrem yang melanda perairan Laut Jawa dalam tiga hari terakhir menimbulkan sejumlah kecelakaan laut di pesisir Jawa Tengah.
Angin kencang disertai gelombang tinggi menyebabkan sedikitnya delapan orang dinyatakan hilang dan dua orang ditemukan meninggal dunia.
Berdasarkan data Basarnas, insiden pertama terjadi di Perairan Pantai Suter, Kabupaten Pekalongan, Minggu 17 Agustus 2025. Sebuah perahu berisi lima pemancing terbalik akibat dihantam ombak besar.
Kepala Basarnas Semarang, Budiono menyampaikan empat orang berhasil diselamatkan, sementara satu orang masih dalam pencarian tim SAR gabungan.
Masih pada hari yang sama, seorang nelayan asal Jepara bernama Suharto (45) dilaporkan hilang di perairan Bandengan. Korban terjatuh ke laut saat berusaha mengambil pelampung jaring. Upaya pencarian rekannya gagal menemukan korban hingga akhirnya dilaporkan ke pihak berwenang.
"Ditambah tragedi lain terjadi di Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang, Selasa 19 Agustus 2025. Sebanyak 12 pemancing yang berada di kawasan dam merah diterjang badai besar,"terangnya.
Tujuh orang berhasil selamat, lima orang lainnya hilang tersapu gelombang. Dari jumlah itu, dua korban ditemukan meninggal dunia pada sore harinya, sedangkan tiga lainnya masih hilang.
Tidak berhenti di situ, kapal nelayan Sikawit yang beroperasi di perairan Korowelang, Kabupaten Kendal, juga terbalik pada Selasa siang. Kapal dengan 10 anak buah kapal (ABK) tersebut dihantam gelombang tinggi. Tujuh ABK berhasil diselamatkan kapal lain, sementara tiga orang dinyatakan hilang.
Dengan demikian, dalam kurun tiga hari, total ada delapan orang hilang dan dua meninggal dunia akibat cuaca ekstrem di Laut Jawa.
Budiono, menyampaikan imbauan agar nelayan serta masyarakat pesisir menunda aktivitas di laut hingga kondisi cuaca benar-benar aman.
"Masih ada tiga orang pemancing di kawasan Tanjung Emas yang belum diketahui nasibnya. Harapan kami, mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat," ujar Budiono.