SEMARANG — Warga Kota Semarang mengeluhkan asap hitam pekat yang dikeluarkan salah satu armada Bus Trans Jateng. Akibat polusi tersebut, bus tersebut dijuluki “cumi-cumi darat” oleh warganet.
Keluhan itu mencuat setelah beredar rekaman video yang memperlihatkan bus Trans Jateng mengeluarkan asap hitam saat melintas di Jalan Sultan Agung, Semarang.
Insiden tersebut melibatkan armada bernomor 25 dengan trayek Stasiun Tawang–Bawen yang saat itu sedang menuju ke arah Bawen, tepatnya sebelum persimpangan Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.
Kemunculan asap pekat ini menambah daftar kritik publik terhadap moda transportasi umum di Jawa Tengah. Setelah sebelumnya kritik diarahkan pada Trans Semarang, kini giliran Trans Jateng yang disorot.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jateng Arief Djatmiko menegaskan komitmennya untuk melakukan perbaikan.
“Ya, kami terus melakukan perbaikan. Informasi seperti ini sangat penting dan silakan langsung disampaikan kepada kami, apalagi jika disertai dengan nomor armadanya,” ujar Arief, Selasa 24 Juni 2025
Arief, yang akrab disapa Miko, awalnya menyebut masih banyak masyarakat yang sulit membedakan antara Trans Semarang dan Trans Jateng karena jalurnya yang tumpang tindih. Bahkan, ia sempat menyebut asap hitam identik dengan Trans Semarang.
“Kadang masyarakat melihatnya bingung, karena satu jalur bisa dilalui dua trayek, jadi bisa tertukar antara Trans Jateng dan Trans Semarang,” katanya.
Namun setelah melihat video yang menunjukkan jelas bus Trans Jateng mengeluarkan asap pekat, ia memastikan akan menindaklanjuti temuan tersebut.
“Kami punya komitmen untuk memberikan pelayanan yang baik, baik kepada penumpang maupun masyarakat umum. Jika ada pelanggaran atau ketidaksesuaian, silakan dilaporkan,” tegasnya.
Miko menambahkan, armada Trans Jateng telah beroperasi sejak 2017. Artinya, saat ini usia kendaraan telah mencapai delapan tahun, mendekati batas ideal operasional selama sepuluh tahun.
“Trans Jateng sudah berjalan sejak 2017, sekarang 2025 berarti usianya delapan tahun. Idealnya memang sepuluh tahun. Kami sudah konsolidasikan rencana peremajaan dan perbaikan armada,” pungkasnya.