DEMAK — Semakin pesatnya tehnologi informasi berbanding lurus dengan insiden siber. Hal tersebut diisampaikan oleh Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Demak Umar Surya Suksmana. Hal tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Keamanan Informasi dengan tema : Implementasi Perlindungan Data Pribadi di Ballrom Wakil Bupati Demak, Rabu 16 Juli 2025.
"Tujuan pelaksanaan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga data pribadi. Kemudian memberikan pemahaman bagaimana cara melindungi data pribadi dari penyalahgunaan. Serta memberikan strategi dan trik dalam melindungi dan dan mengamankan data pribadi," ucap Umar Surya.
Sementara dalam sambutannya, Sekda Demak, Akhmad Sugiharto mengingatkan, data pribadi menjadi aset berharga yang perlu dilindungi. Dibalik manfaatnya, ada sejumlah masalah yang membahayakan penggunanya, mulai Insiden kebocoran data, pencurian data pribadi, penjualan data pribadi, hingga penipuan yang semakin sering terjadi.
"Penyalahgunaan data pribadi sendiri dapat disebabkan karena lemahnya sistem dan kurangnya pengawasan atau penyelenggara sistem elektronik serta faktor pemilik data pribadi yang tidak menjaga dengan benar dan sering mengupload data sembarangan," ucapnya.
"Akibatnya, data pribadi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan mengakibatkan kerugian bagi pemilik data tersebut. Data pribadi, seperti nama lengkap, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, data keuangan, dan informasi lainnya, jika jatuh ke tangan yang salah, dapat menimbulkan kerugian yang signifikan bagi individu," tambahnya.
Ia pun mencontohkan penyalahgunaan data pribadi yang patut diwaspadai antara lain, Pinjaman Online (Pinjol), Skimming (Pencurian informasi kartu kredit atau debit), SMS Spam, dan masih banyak contoh lainnya yang berujung pada kerugian akibat data pribadi yang bocor.
Ancaman Siber
Hadir sebagai narasumber Dony Harso, Sandiman Ahli Madya, Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Pusat Badan Siber dan Sandi Negara dalam paparannya menjelaskan ada tujuh ancaman siber di Indonesia yang prioritas yakni elections security, cyber terorism dan cybercrime, data privacy breach, disinformasi social media, pelecehan dan eksploitasi anak secara online, kekerasan berbasis gender online, dan ancaman siber lainnya.
"Kondisi masyarakat di Indonesia ini 55,8 % masyarakat tidak dapat membedakan email yang berisi spam/virus/malware sehingga sangat rentan phising. Selanjutnya 45,8 persen masyarakat terindikasi tidak menggunakan antivirus. Kemudian 43,4 persen masyarakat terindikasi tidak melakukan backup data sehingga sangat rentan terhadap serangan ransomware," ucapnya.
Narasumber yang lain Tony Haryanto, selaku Sandiman Ahli Muda Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Negara menyampaikan selama Januari hingga Mei 2025, terjadi 328 insiden keamanan data. 318 berupa kebocoran data dan 10 ransomware serta lebih dari 19 juta data kredensial akun organisasi terpapar di darknet, tersebar di forum jual beli data, diskusi hacker, dan platform pesan instan, sehingga berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak berwenang.
"Kebocoran data banyak terjadi di sisi pengguna (endpoint), akibat malware information stealer, dump database dan kelalaian pengguna akibat serangan phishing dan social engineering yang semakin sering terjadi," pungkasnya.