SEMARANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan menggelar Festival Wayang Semesta Volume 1 pada akhir pekan ini, Jumat dan Sabtu, 7–8 November 2025, di Lapangan Simpang Lima Semarang.
Ajang budaya berskala nasional ini mengangkat tema “Semarang Semakin Hebat, Wayang Semakin Mendunia”, sebagai wujud komitmen Pemkot dalam melestarikan seni tradisi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa Festival Wayang Semesta bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi juga sarana pendidikan karakter bangsa.
“Wayang bukan hanya tontonan, melainkan tuntunan. Melalui festival ini kami ingin mengajak masyarakat untuk mencintai, memahami, dan bangga terhadap budaya sendiri,” ujarnya di Balai Kota Semarang, Selasa 4 November 2025.
Agustina juga menambahkan, kegiatan ini menjadi penggerak sektor ekonomi kreatif lokal.
“Ketika kita menghidupkan panggung tradisi, kita juga membuka peluang ekonomi bagi seniman, pelaku UMKM, dan anak muda kreatif. Budaya dan ekonomi bisa tumbuh bersama,” katanya.
Festival yang terbuka gratis untuk masyarakat ini akan dimulai pukul 19.00 WIB. Perhelatan tersebut menjadi wadah kolaborasi lintas generasi, komunitas, akademisi, pelaku usaha, hingga media dalam semangat hexahelix untuk mewujudkan Semarang yang semakin maju dan berkarakter budaya.
Selama dua hari, pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai pertunjukan seperti wayang klasik dan kontemporer, Parade Budaya, Wayang Cilik, serta Pasar UMKM yang menampilkan produk kriya, fesyen, dan kuliner khas Semarang.
Selain itu, tersedia Zona Wayang Experience yang mengajak masyarakat ikut berkreasi dalam kegiatan budaya seperti membatik, mengukir, hingga mewarnai topeng wayang.
Pemkot Semarang berharap Festival Wayang Semesta menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya dan memperkenalkan warisan bangsa ke kancah internasional.
“Wayang adalah jati diri kita. Jika generasi muda mengenalnya dengan bangga, maka kita sedang menjaga masa depan bangsa,” pungkasnya.
Pembukaan festival pada Jumat malam akan diawali dengan Opening Ceremony menampilkan parade budaya, tari kolosal, dan peluncuran Patung Bima dan Srikandi sebagai simbol keteladanan serta kekuatan tokoh pewayangan.
Malam hari akan ditutup dengan pementasan spektakuler bertajuk “Pambuko: Awal Semesta dari Akar Tradisi Agung” yang memadukan pertunjukan wayang orang dengan teknologi digital secara modern.
Puncak acara pada Sabtu menghadirkan Wayang Cilik, yang melibatkan ribuan anak sebagai bentuk regenerasi pelestari seni wayang. Pada malam harinya, kelompok seni legendaris Ngesti Pandawa akan menerima penghargaan Lifetime Achievement dari Pemerintah Kota Semarang atas dedikasinya dalam menjaga eksistensi wayang.
Festival akan ditutup dengan pagelaran lintas generasi bertajuk “Ekspresi: Wayang Masa Kini”, yang mempertemukan seniman dari berbagai kota. (Adv)