Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

14 Keluarga Korban Longsor Karanganyar Gunung Diungsikan

MENGUNGSI - 14 keluarga korban longsor di Kelurahan Karanganyar Gunung
Candisari
Kota Semarang harus diungsikan sementara ke Kost Atlanta. (wahyu sulistiyawan/diswayjateng.com)

SEMARANG — Sebanyak kurang lebih 1$ keluarga korban tanah longsor di Kelurahan Karanganyar Gunung, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, terpaksa mengungsi ke sebuah bangunan kos bernama Atlanta West House yang berada di Jalan Jangli Raya. Lokasi pengungsian tersebut dipilih karena jaraknya hanya beberapa ratus meter dari titik longsor.


Sebanyak 13 kamar kos digunakan sementara untuk menampung para pengungsi. Sugeng Riyadi (34), salah satu warga terdampak, menceritakan bahwa longsor diikuti banjir bandang membuat rumah-rumah di sekitar lokasi mengalami kerusakan parah.


"Ada sebelasan keluarga yang mengungsi di sini sejak tadi malam. Empat rumah terdampak langsung longsor dan banjir. Rumah saya termasuk yang kena longsoran dulu, lalu sorenya air hujan deras membuat banjir semakin parah," ujar Sugeng kepada diswayjateng.com saat ditemui di Kos Atlanta West House, Kamis, 11 September 2025.


Ia menambahkan, sebagian barang berharga berhasil diselamatkan, termasuk dokumen penting seperti surat-surat rumah. Namun, sejumlah perabot dan harta benda lain terendam dan rusak.


"Air langsung meluap tinggi. Di rumah saya, ketinggian banjir lebih dari satu meter. Rasanya seperti banjir bandang, cepat sekali naiknya," tambahnya.


Menurut Sugeng, tanda-tanda longsor sudah terlihat sejak pagi. Sekitar pukul 10.00 WIB, tanah di sekitar rumah mulai retak-retak. Tak lama kemudian, tebing di dekat rumahnya ambruk.


"Saya sempat melihat retakan makin melebar. Saya lari ke atas rumah setelah memanggil kakak saya untuk segera keluar. Detik itu juga, tanah langsung longsor," tuturnya.


Suparmi (66), warga lain yang rumahnya ikut terdampak, mengaku merasakan getaran kecil sebelum longsor terjadi. Saat itu ia sedang di rumah bersama 10 anggota keluarga lainnya.


"Sekitar jam 10 pagi sudah ada batu-batu kecil yang jatuh. Rasanya seperti ada getaran. Untungnya kami sudah sempat keluar rumah dulu. Bagian belakang rumah, termasuk dapur, kamar, dan kamar mandi, hancur kena longsoran," cerita Suparmi.


Setelah kejadian, ia bersama keluarganya segera dievakuasi ke kos Atlanta West House pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB.


Suparmi memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai ratusan juta rupiah karena sebagian besar isi rumah rusak parah. Meski begitu, ia merasa lega karena bantuan dari pemerintah dan relawan segera datang.


"Di sini kami sudah dapat bantuan makanan, minuman, dan kebutuhan dasar. Bantuan masuk cukup cepat," ujarnya.

Suparmi menambahkan, keluarganya akan tetap mengungsi sampai rumah bisa ditempati kembali.


"Kami belum tahu sampai kapan di sini. Kalau rumah sudah bisa dibangun lagi, baru bisa pulang," katanya.


Dalam proses evakuasi, Suparmi mengaku diselamatkan oleh anaknya, Eko Prasetyo. Ia yang memberi tahu agar seluruh keluarga segera keluar rumah saat melihat tanda-tanda longsor.


"Pondasi rumah sebenarnya sudah retak sejak dua hari sebelumnya, tapi kami tidak menyangka akan longsor secepat itu. Untung anak saya cepat tanggap," jelasnya.


Diki (21), penjaga kos Atlanta, menceritakan bahwa sejak pukul 17.30 WIB, para pengungsi mulai berdatangan dan menempati kamar yang sudah disediakan. 


"Untuk pengungsi ini ada 13 kamar yang dibuka. Kamar itu ada di lantai 2 dan lantai 3," ujar Diki.


Kos Atlanta West House memiliki total 28 kamar, namun sebanyak 13 kamar secara khusus diberikan untuk korban banjir. Fasilitas ini diberikan secara gratis atas inisiatif pemilik kos dan pihak manajemen.


"Memang sudah disepakati untuk digratiskan. Ini bentuk kepedulian dari kantor kos terhadap pengungsi, baik korban banjir maupun warga yang rumahnya masih disita dan belum bisa ditempati," jelas Diki.


Menurutnya saat ini, total kurang lebih ada 14 KK yang tinggal sementara di kos tersebut. Namun, belum ada kejelasan sampai kapan mereka akan menetap. 


"Kalau sampai kapannya belum tahu, karena masih dikoordinasikan antara pihak kos dan pihak pemerintah setempat. Tapi pemilik kos bersedia sampai kapan pun, sampai rumah warga benar-benar bersih dan bisa ditinggali kembali," tambah Diki.


"Pemilik kos sudah menyatakan siap mendukung sampai akhir, sampai rumah korban benar-benar bisa ditempati kembali," tambahnya Diki.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube