Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Waduk Mrica Terancam Lumpuh, Sedimentasi Sisakan Hanya 10 Persen Kapasitas

Kegiatan penanaman 20 ribu bibit pohon di kawasan Telaga Dringo salah satu hulu penting DAS Serayu. (Dok. Diskominfo Banjarnegara)

Banjarnegara — Waduk Mrica di Banjarnegara, salah satu infrastruktur energi strategis di Jawa Tengah, kini berada dalam kondisi kritis. Sedimentasi berat di aliran Sungai Serayu membuat daya tampung waduk hanya tersisa 10 persen, jauh di bawah ambang aman. Jika tak segera ditangani, potensi penutupan total waduk dalam satu hingga dua tahun ke depan tak bisa dihindari.


Kondisi ini diungkapkan langsung oleh Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernandus Sudarmanta saat menghadiri kegiatan reforestasi di kawasan Telaga Dringo, Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, pada Rabu (27/08/2025).


"Waduk Mrica dirancang bertahan minimal 50 tahun. Tapi baru berjalan 30 tahun, kapasitasnya tinggal 10 persen karena sedimentasi. Tanpa intervensi serius, waduk bisa mati dalam waktu dekat. Dampaknya sistemik, krisis air, banjir, hingga longsor," jelas Bernandus.


Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, pemerintah pusat dan daerah bersama elemen masyarakat melangsungkan penanaman 20 ribu bibit pohon di kawasan Telaga Dringo, salah satu hulu penting DAS Serayu. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulau TNI, Polri, BUMN, pemuda desa, kelompok petani, dan komunitas lingkungan.


Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali menekankan, bahwa pelestarian DAS Serayu tak bisa ditunda lagi.


"Kita tak bisa hanya mengeruk sedimentasi. DAS Serayu harus dijaga secara menyeluruh. Ia adalah tulang punggung hidup masyarakat dari hulu hingga hilir," katanya.


Telaga Dringo, yang terletak di kawasan pegunungan Dieng, dipilih sebagai lokasi reforestasi karena merupakan titik awal aliran Serayu yang selama ini menopang kehidupan jutaan penduduk di wilayah selatan Jawa.

Perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Witono menegaskan, bahwa pendekatan konservasi harus dilakukan dengan skema pentahelix, yaitu melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat, dan media.


"DAS Serayu adalah sumber utama bagi PLTA Mrica. Bila hulu rusak, hilir tak bisa diselamatkan. Kolaborasi jadi kunci utama yang bisa direplikasi secara nasional," ujarnya.


Sementara itu, sosiolog sekaligus tokoh lingkungan asal Banjarnegara, Imam Prasodjo menyambut baik hadirnya SK Kabupaten Konservasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah.


"Ini bukan hanya langkah administratif, tapi fondasi hukum yang sangat penting untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam pelestarian lingkungan," tegasnya.


Ia berharap reforestasi Telaga Dringo bukan berhenti sebagai agenda tahunan, tapi menjadi komitmen kolektif lintas generasi.


Selain penanaman pohon, kegiatan ini juga disertai bantuan bibit untuk petani dan peternak, serta penghargaan bagi pemenang lomba video konservasi tingkat pelajar dan umum. Tujuannya adalah memperkuat kesadaran ekologis, khususnya bagi generasi muda dan pelaku ekonomi lokal.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube