Banjarnegara — Sebanyak 23ribu orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2024 menjadi fokus Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri . Hal ini ditindaklanjuti salah satunya dengan menyelenggarakan program inovatif 'Polantas Menyapa' di tengah kemeriahan Dieng Culture Festival (DCF) 2025 di Dieng, Banjarnegara, Kabupaten Jawa Tengah pada Sabtu-Minggu 23 hingga 24 Agustus 2025.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mewujudkan Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Program 'Polantas Menyapa' mengusung pilar utama RUNK, yaitu Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan.
Fokus utama kegiatan adalah meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pengguna jalan melalui edukasi dan penegakan hukum yang dilakukan secara kreatif dan humanis.
Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, melalui Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol. M. Pratama Adhyasastra menegaskan, berdasarkan data resmi Korlantas, sepanjang tahun 2024 terjadi 103.645 kasus kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, 23.317 orang meninggal dunia.
"Melalui program 'Polantas Menyapa' merupakan bentuk konkret implementasi Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK), khususnya pada pilar 'Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan'. RUNK sendiri menargetkan penurunan fatalitas kecelakaan sebesar 50 persen pada 2030," jelasnya saat ditemui wartawan disela kunjungannya, Sabtu 23 Agustus 2025.
Menurutnya, DCF tahun 2025 yang dihadiri lebih dari 75.000 orang setiap tahunnya dipilih karena karakteristiknya sebagai ruang publik yang inklusif.
Ia menjadi titik temu masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, seniman, pekerja, hingga tokoh adat yang menjadikannya medium efektif untuk kampanye keselamatan secara masif.
Lebih lanjut, edukasi lalu lintas tidak harus hadir dalam ruang kelas atau tilang digital. Edukasi bisa disampaikan secara santai, menyenangkan, dan kontekstual.
"Keselamatan bukan hanya urusan polisi, tapi budaya bersama. Tertib lalu lintas bisa dan harus menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia," ujarnya saat ditemui disela acara.
Berbeda dengan pendekatan represif, lanjutnya, Polantas Menyapa tampil sebagai program dialog terbuka antara petugas dan masyarakat.
Di tengah tenda interaktif, anggota Polantas berdialog langsung dengan pengunjung, mendengar cerita, menjawab pertanyaan, sekaligus memberi pemahaman soal keselamatan dengan bahasa yang mudah diterima.
Tak hanya itu, duta keselamatan lalu lintas hadir membagikan cokelat dan merchandise berisi pesan berkendara aman, sembari mengajak pengunjung menuliskan harapan dan pesan keselamatan yang ditempel di dinding publik kampanye.
"Pendekatan ini tidak menggurui. Justru jadi pengingat bahwa keselamatan bisa dimulai dari hal-hal kecil dan menyenangkan," katanya.
Pemilihan DCF sebagai platform edukasi, katanya, didasarkan pada tiga strategi, yang pertana DCF menjadi titik temu masyarakat luas. Kemudian adanya integrasi budaya dan keselamatan di DCF dan bisa dilakukan pendekatan kreatif dan humanis.
Kampanye ini adalah bagian dari strategi besar Korlantas Polri untuk menjadikan keselamatan lalu lintas sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar agenda seremonial.
"Dari Dieng, kita kirim pesan ke seluruh Indonesia. Keselamatan adalah budaya. Ayo selamat di jalan, selamat di rumah," pungkasnya.