Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Rizal Bawazier Dolan Bareng Pejuang Talasemia Batang, Ini Pesannya

Anggota DPR RI Rizal Bawazier bersama penyandang Talasemia Kabupaten Batang yang terhimpun dalam POPTI Batang

BATANG — Di tengah riuh obrolan santai dan canda tawa anak-anak penyintas talasemia Kabupaten Batang, Anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier melempar satu gagasan agar para penyintas atau thaller dilatih jadi pengusaha.


Pernyataan itu muncul di kegiatan Pejuang Talasemia Dolan Bareng Rizal Bawazier yang digelar bersama Persatuan Orang Tua Penderita Thalasemia (Popti) Batang, Sabtu 12 Juli 2025.


Acara ini menjadi ruang temu penuh makna, bukan sekadar ajang jalan bareng dan ngopi, melainkan momentum menyerap aspirasi langsung dari akar rumput.


Rizal menyebut banyak anak muda, termasuk penyandang Talasemia di Batang yang usianya sudah matang untuk bekerja, namun belum memiliki akses, keterampilan, apalagi kesempatan.


"Daripada mereka kerja tapi nggak siap, mending kita latih dulu. Bangun keahlian mereka, bangun mental mereka, baru kita dorong masuk dunia kerja," katanya di Desa Wisata Pandasari, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. 


Ia menegaskan bahwa pengangguran bukan cuma soal angka statistik, tapi tentang potensi bangsa yang belum tergarap.


Menurutnya, Indonesia tak akan punya daya saing jika SDM-nya belum digarap sejak dini.


"Anak-anak muda ini aset. Jangan sampai kita sia-siakan cuma karena malas bikin pelatihan," tegasnya lagi.


Selain isu pelatihan kerja, Rizal juga menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap para penyintas penyakit kronis seperti talasemia.


Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu bahkan menyarankan para pejuang Talasemia untuk berkembang jadi pengusaha.


"Lebih baik jadi pengusaha, tidak disuruh-suruh," tuturnya.


Ia mengkritik sistem birokrasi yang berbelit dan lamban dalam penyediaan layanan serta riset medis.

"Anggaran riset itu kecil, tapi rumitnya luar biasa. Bayangkan kalau semua proses itu bisa kita ringkas, mungkin sudah ada banyak solusi untuk mereka," kata Rizal dengan nada serius.


Ia berharap pemerintah tak hanya reaktif, tapi juga proaktif dalam menjamin kualitas hidup para penyintas.


Dokter Spesialis Anak RSUD Kalisari Batang, dr Tan Evi, menyebut kemajuan teknologi telah mengubah wajah talasemia.


"Dulu, paling bisa bertahan tiga tahun. Sekarang bisa sampai 63 tahun kalau ditangani dengan benar," ungkap dr Evi.


Menurutnya, kunci dari penanganan talasemia ada tiga: deteksi dini, transfusi darah saat kadar hemoglobin masih tinggi, dan terapi kelasi besi yang rutin.


Ia menyebut, banyak pasien kini bisa hidup produktif, asal intervensi medisnya tepat waktu dan konsisten.


"Kalau nunggu Hb-nya rendah baru ditransfusi, efeknya bisa fatal. Tapi kalau rutin, anak-anak bisa sekolah, main, bahkan kerja," katanya.


Untuk wilayah Batang, dr Evi mencatat ada 41 pasien talasemia aktif, dengan 19 di antaranya sudah dewasa.


Meski masih ada penambahan kasus 2–3 orang per tahun, angka itu jauh menurun dibanding satu dekade lalu.


"Skrining pranikah sudah mulai efektif. Pasangan jadi tahu risiko sejak awal sebelum menikah," tuturnya.


Ia berharap program ini bisa diwajibkan secara nasional agar angka talasemia bisa ditekan drastis.


Rizal menuntut pemerintah hadir dengan solusi nyata, terutama untuk kelompok-kelompok rentan seperti anak muda menganggur dan penyintas penyakit kronis.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube