Pekalongan — Beginilah suasana Pesindon Batik Vibes 2025, ajang tahunan yang selalu jadi magnet kreativitas anak muda Kota Batik.
Ratusan pelajar memenuhi gang sempit di Jalan Pesindon Raya, Kota Pekalongan. Dengan antusias, mereka mencolet kain putih panjang dengan cap bermotif batik tradisional.
Kain itu terbentang sejauh 116 meter, membentang indah di tengah kampung yang kini menjelma jadi lautan warna alami.
Tahun ini, tema yang diusung bukan sekadar seni, tapi juga kepedulian lingkungan dan semangat kebersamaan.
Ketua Panitia Pesindon Batik Vibes 2025, Muhammad Salahudin atau akrab disapa Didin, mengungkapkan rasa bangganya atas keberhasilan gelaran tahun ini.
“Alhamdulillah, tahun ini Pesindon Batik Vibes sudah yang kelima, dan kami ingin tampil beda,” ujarnya di sela kegiatan, Sabtu 25 Oktober 2025.
Didin menjelaskan, ide membuat batik cap pewarna alam sepanjang 116 meter bukan tanpa alasan.
Selain lebih mudah diaplikasikan oleh pelajar dan pemula, teknik ini juga menjadi bentuk edukasi tentang batik ramah lingkungan.
“Selama ini batik sering dikaitkan dengan limbah pencemar. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik bisa dibuat dengan pewarna alami yang ramah lingkungan,” tambahnya.
Angka 116 sendiri, lanjut Didin, memiliki makna simbolik.
“Kita ambil angka 16 karena tahun ini genap 16 tahun batik diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.
Suasana Pesindon pagi itu benar-benar hidup. Aroma daun sebagai bahan pewarna alami berpadu dengan tawa ceria para pelajar.
Kain yang tadinya putih kini perlahan berubah menjadi kanvas raksasa yang memancarkan warna bumi—cokelat, hijau, dan jingga—simbol harmoni antara seni dan alam.
Kegiatan ini juga menjadi momentum kebangkitan pemuda di tengah peringatan Sumpah Pemuda. “Panitia hampir semuanya anak muda. Pesertanya pun pelajar dan remaja,” tutur Didin.
Ia menegaskan bahwa Pesindon Batik Vibes 2025 bukan hanya tentang batik, tapi juga gerakan sosial yang mendorong kepedulian terhadap lingkungan.
“Kita ingin anak-anak muda sadar, melestarikan budaya bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Walikota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid yang hadir dalam acara itu juga mengapresiasi Pesindon Batik Vibes 2025.
"Dalam rangka hari batik di kampung pesindon selalu acara ada hal yang baru. Kali ini Mengundang semua komunitas yang ada di kota Pekalongan selanjutnya hal yang baru membatik 116 meter, filosofinya 16 tahun sejak ditetapkan UNESCO," katanya.
Ia berharap Pesindon Batik Vibes bisa lebih menasional pada tahun penyelenggaraan selanjutnya.
Bahkan, jika memungkinkan menjadi ajang yang dilirik mancanegara.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Pekalongan, Bagus Riza Astian dari Partai Amanat Nasional, turut memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut.
“Pesindon Batik Vibes ini bukan sekadar festival batik, tapi juga bentuk inovasi anak muda untuk mencintai alam dan budaya,” katanya.
Menurut Bagus, penggunaan pewarna alam seperti dari daun, kulit kayu, dan bunga adalah langkah konkret menuju batik ekologis yang ramah lingkungan.
“Kita tahu, pewarna kimia menimbulkan banyak limbah. Dengan pewarna alam, hampir tidak ada limbah yang merusak. Ini contoh nyata kolaborasi budaya dan kelestarian alam,” jelasnya.
Ia menilai keterlibatan pemuda dalam kegiatan seperti ini selaras dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda, di mana generasi muda berperan aktif menjaga jati diri bangsa.
“Anak muda Pesindon ini luar biasa. Mereka bukan hanya menjaga tradisi, tapi juga membuatnya relevan dengan tantangan zaman,” tuturnya dengan bangga.
Pesindon Batik Vibes 2025 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tak selalu kaku dan formal.
Di tangan anak muda Pekalongan, batik menjadi simbol energi, inovasi, dan cinta tanah air.