BATANG — Momentun Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025 membuat pengurus Daerah (PD) Rifaiyah Kabupaten Batang berharap sejarah Ahmad Rifai bisa masuk kurikulum sekolah. Ahmad Rifai adalah pahlawan nasional kelahiran Kendal yang berjuang di Kabupaten Batang.
Oleh Pemkab Batang, Ahmad Rifai diajukan menjadi pahlawan nasional dinobatkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.
Ketua PD Rifaiyah, Nur Khamid menyebut perjuangan KH Ahmad Rifai tidak hanya penting bagi kalangan Rifaiyah, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“KH Ahmad Rifai itu bukan milik Rifaiyah saja, tapi milik bangsa. Apalagi beliau diangkat menjadi pahlawan nasional atas usulan dari Kabupaten Batang. Maka sudah seharusnya Batang ikut berperan besar dalam mengenalkan sosok beliau kepada masyarakat luas,” tegasnya.
Harapan besar pun disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Batang agar lebih aktif membumikan nilai-nilai perjuangan KH Ahmad Rifai.
Ia mengusulkan agar kisah perjuangan KH Ahmad Rifai dapat dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sejak dini — mulai dari TK, SD, hingga SMA atau sederajat
“Minimal anak-anak Batang tahu bahwa di daerahnya lahir seorang pahlawan nasional. Pemerintah juga bisa mencetak gambar beliau untuk dipasang di lembaga pendidikan dan kantor-kantor pemerintahan,” ujarnya.
Pada Hari Pahlawan kali ini, Para santri dan pengurus PD Rifaiyah Kabupaten Batang menggelar istighosah dan ziarah ke sepuluh makam masyaikh atau kiai sepuh di wilayah Batang, mulai dari Kecamatan Subah, Reban, Limpung, hingga Banyuputih.
Kegiatan ini digelar bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjuang menegakkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Ketua PD Rifaiyah Kabupaten Batang menjelaskan, momentum Hari Pahlawan menjadi pengingat bagi santri untuk meneruskan perjuangan para ulama terdahulu, khususnya sosok KH Ahmad Rifai — pahlawan nasional asal Batang.
“Tema tahun ini bergerak meneruskan perjuangan. Dalam konteks Rifaiyah, perjuangan itu adalah amar makruf nahi mungkar, berjuang untuk kemaslahatan umat sebagaimana yang diajarkan KH Ahmad Rifai,” ujarnya.
Menurutnya, Rifaiyah memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan KH Ahmad Rifai yang mendirikan gerakan dakwah dan pendidikan Islam sejak abad ke-19 di Batang.
Ziarah ke makam para masyaikh generasi pertama dan kedua Rifaiyah di Kabupaten Batang menjadi simbol kesinambungan spiritual dan perjuangan.
“Awal berdirinya Rifaiyah itu bermula dari Kabupaten Batang. Karena itu, ziarah ini bukan hanya mengenang, tapi juga meneladani perjuangan beliau-beliau yang telah membangun pondasi keagamaan di daerah ini,” katanya.
Bagi Rifaiyah, mengenang pahlawan bukan sekadar nostalgia, melainkan ajakan untuk terus bergerak meneruskan perjuangan — dengan ilmu, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.