TEGAL — Ancaman nyata kini membayangi Kota Tegal. Penurunan muka tanah, yang selama ini disebut-sebut sebagai biang kerok banjir rob di sejumlah wilayah pesisir Kota Bahari, tak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Pengamat Perancangan Kota, Abdullah Sungkar, mewanti-wanti bahwa persoalan ini berpotensi makin memperparah kerentanan kawasan pesisir terhadap rob dan banjir yang kian meluas.
Sungkar memprediksi, dalam sepuluh tahun ke depan, penurunan muka tanah di Kota Tegal bisa mencapai sepuluh sentimeter. Padahal, saat ini saja elevasi tinggi rob sudah berkisar dua puluh lima sentimeter, dan angka tersebut belum memperhitungkan laju penurunan muka tanah.
Jika tak segera diantisipasi, ramalan Sungkar makin mengerikan: elevasi rob bisa mencapai lima puluh sentimeter dengan jangkauan wilayah terdampak hingga seribu meter dari garis pantai.
Saat ini, data menunjukkan Kelurahan Muarareja menjadi wilayah terdampak rob terparah, mencapai 47,48 hektare. Disusul kemudian Kelurahan Tegalsari (31,60 hektare), Kelurahan Panggung (13,98 hektare), dan Kelurahan Mintaragen (7,75 hektare).
"Maka harus segera diatasi," tegas Sungkar saat diwawancarai khusus oleh Radar Tegal di kediamannya di Jalan Gajah Mada, belum lama ini.
Penurunan muka tanah di Kota Tegal tak hanya disebabkan faktor alami, tetapi juga aktivitas manusia. Beban berat bangunan yang terus bertambah dan eksploitasi air tanah berlebihan menjadi pemicu utama. Untuk meredam laju penurunan ini, Sungkar menyarankan pengendalian pemanfaatan lahan, terutama untuk konstruksi bangunan tinggi.
"Itu dapat diantisipasi dengan mengurangi bangunan-bangunan tinggi di areal pesisir pantai. Juga mengendalikan pengambilan air tanah yang mengurangi tekanan air tanah," jelas pria lulusan Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro itu.
Lebih lanjut, Sungkar memaparkan sejumlah solusi mendesak untuk penanganan rob yang harus segera dilakukan Pemerintah Kota Tegal. Prioritas utama adalah pembangunan jetty atau pemecah gelombang di muara-muara sungai besar seperti Sungai Gangsa, Kemiri, dan Ketiwon. Ini bertujuan untuk mereduksi energi gelombang yang menghantam pantai. Selain itu, sebaran dan dimensi breakwater yang sudah ada juga perlu diperbanyak dan diperbesar.
Tak kalah penting, pembangunan polder dan stasiun pompa banjir di daerah eksisting terdampak rob. Dimensi saluran drainase lapangan juga harus diperbanyak dan diperbesar, serta dibangun kolam retensi untuk menampung air sementara saat debit limpasan tinggi. Kolam retensi ini nantinya akan mengalirkan air melalui pompa ke saluran drainase terdekat.
Namun, semua upaya ini harus didukung oleh drainase lapangan yang memadai untuk mengalirkan air permukaan ke kolam retensi. Kapasitas debit pompa juga harus disesuaikan dengan input dan output yang diperhitungkan.
"Kondisi yang ada jangan diperparah dengan alih fungsi lahan," tegas mantan Anggota DPRD Kota Tegal ini. Ia menekankan pentingnya konsistensi tata ruang, agar daerah tangkapan air tidak dialihfungsikan menjadi permukiman, perumahan, atau area perdagangan dan jasa.
Sungkar bahkan mengusulkan agar taman lingkungan dapat disulap menjadi embung kecil atau polder mini. Ia mencontohkan, "Mini polder di Perum Baruna Asri dibuat untuk bisa menampung air dari Jalan Rambutan dan Siwalan."
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjadi benteng kokoh bagi Kota Tegal dari ancaman tenggelam di masa depan.