Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Kisah Haru Fatimah, Siswi Disabilitas Pekalongan yang Jadi Perajin Batik Muda di Rumah Batik TBIG

Ari Hendrayanto (57) dan putrinya Fatimah Asy’ara (19) befoto dengan menunjukan plakan wisuda di Rumah Batik TBIG Pekalongan. (Wahyu Sulistiyawan)

Pekalongan — Di antara para wisudawan yang mengenakan kebaya dan batik, tampak Fatimah Asy’ara (19) melangkah anggun dengan kebaya berwarna pink dan kerudung crem.


Hari itu menjadi momen bersejarah baginya yang telah menyelesaikan pendidikan di kelas disabilitas Rumah Batik TBIG dan meraih gelar sebagai perajin batik muda yang siap bersaing.


Di antara deretan kursi tamu, sang ayah, Ari Hendrayanto (57), duduk dengan mata berbinar. Pria asal Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan itu tampak tak henti menatap panggung tempat putrinya menerima piagam dari Lie Si An, Chief of Business Support Officer TBIG.


Dengan kemeja abu-abu sederhana, Ari memancarkan kebanggaan seorang ayah yang melihat perjuangan anaknya terbayar tuntas.


“Saya bangga sekali dengan anak saya,” ujar Ari kepada Diswayjateng.com, Kamis 9 Oktovmber 2025.


Ari mengaku, meski putrinya punya keterbatasan, namu semangat untuk belajar sangat tinggi.


“Fatimah itu anak yang luar biasa. Meski punya keterbatasan, dia selalu semangat belajar. Di Rumah Batik TBIG ini, dia menemukan dunia yang cocok untuknya," tuturnya.


Fatimah merupakan siswi kelas 12 di SMA Luar Biasa (SMA LB) Wiradesa, sebuah sekolah bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Selama tiga bulan ia mengikuti pelatihan di Rumah Batik TBIG, Fatimah menunjukkan semangat dan ketekunan luar biasa.


Menurut Ari, Fatimah bahkan menjadi salah satu peserta terbaik di kelas membatik.


“Dia cepat tangkap. Kalau dikasih pola atau warna, langsung bisa. Dari gambar, cat, hingga motif, semua dikerjakan dengan sabar dan teliti. Bahkan gurunya bilang dia paling rajin di kelasnya," tambah Ari.


Fatimah memang tumbuh dalam lingkungan yang tak asing dengan batik. Sang ayah adalah seorang perajin batik tulis yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia wastra tradisional itu.


Di rumah, Ari mengerjakan batik dari bahan yang masih terbuat dari benang hingga finishing kain batik menjadi contoh nyata bagi anak-anaknya.


“Saya memang pembatik dari dulu, dan kini Fatimah itu meneruskan perjuangan saya. Sekarang di rumah kami sama-sama bikin batik. Kakaknya juga bantu di desain," cerita Ari.

Meski memiliki keterbatasan dalam berpikir abstrak, Fatimah dikenal tekun dan pantang menyerah. Ia selalu mengikuti setiap arahan guru dan mentor dengan penuh antusias. Dukungan keluarga menjadi kunci semangatnya.

Ari mengaku, setiap kali Fatimah berlatih di Rumah Batik TBIG, ia selalu menunggu hingga sore, bahkan malam hari.


“Saya tunggu dari jam satu sampai jam lima sore. Kadang sampai malam. Tapi saya ikhlas, karena saya lihat hasilnya. Dia senang sekali kalau hasil batiknya jadi," ujarnya sambil tersenyum.


Rumah Batik TBIG, yang berlokasi di Kampung Singgah, Kelurahan Gemawang, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, menjadi wadah bagi puluhan peserta dari berbagai latar belakang.


Program pelatihannya mencakup kelas reguler, disabilitas, dan kuliner. Tahun ini, sebanyak 51 siswa diwisuda, termasuk Fatimah yang mewakili kelas disabilitas.


Lie Si An, Chief of Business Support Officer TBIG, menyampaikan bahwa kelulusan para siswa merupakan bukti nyata komitmen Tower Bersama Group dalam mendukung keberlanjutan program CSR di bidang pelestarian budaya batik.


“Ini menunjukkan komitmen Tower Bersama Group terhadap keberlanjutan program CSR Rumah Batik yang telah berjalan sejak 2014. Kami bahagia karena sebagian wisudawan kini sudah menjadi wirausaha mandiri dan mampu berkarya,” ujar Lie.


Kepala Kantor Pelayanan Koperasi Bangun Bersama (KBB) Pekalongan, Nanang Tri Purwanto, menegaskan bahwa Rumah Batik TBIG memiliki visi menjadi pusat pendidikan batik yang inklusif dan ramah lingkungan di Indonesia.


“Kami menjalankan pendidikan batik yang terstruktur dan terprogram, menyediakan jalur inkubasi usaha, serta membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak agar siswa bisa berkembang,” ungkap Nanang.


Ia menjelaskan program pelatihan di Rumah Batik TBIG meliputi kelas reguler A dan B, serta kelas kuliner. Kelas reguler A diikuti 30 peserta dan meluluskan 27 siswa, dengan kompetensi meliputi desain, pewarnaan, dan penyempurnaan produk batik.


Untuk kelas reguler B diikuti 10 peserta dan meluluskan 8 siswa berkebutuhan khusus.


Sedangkan untuk kelas kuliner diikuti 11 peserta dan meluluskan 10 siswa, dengan fokus pada pelatihan pengolahan, pengemasan, dan pemasaran produk kuliner khas daerah.


Nanang menambahkan, setiap siswa yang telah lulus akan mengikuti program inkubasi usaha (pemgembangan usaha), di mana mereka berkesempatan memproduksi dan memasarkan hasil karya melalui Koperasi Jasa Bangun Bersama.


"Hingga tahun 2025, sebanyak 35 alumni telah berhasil mengikuti program inkubasi dengan dukungan modal usaha mencapai Rp450 juta," ujar Nanang.(SUL)

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube